Surat Al Waqiah

Hari Kiamat • Makkiyah • 96 ayat

Tentang Surat Al-Waqi'ah

Baca Surat Al-Waqi'ah (Hari Kiamat — الواقعة) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 96 ayat Makkiyah (Juz 27) — surat ke-56 dalam Al-Quran.

Al-Waqiah membagi manusia di hari kiamat menjadi tiga golongan: as-sabiqun (golongan terdepan yang paling utama), ashab al-yamin (golongan kanan), dan ashab asy-syimal (golongan kiri yang celaka). Surat ini juga menegaskan kemuliaan Al-Quran yang tersimpan dalam Kitab yang terpelihara dan disunahkan membacanya setiap malam..

Tema Utama

  • Kepastian terjadinya Hari Kiamat dan kedahsyatannya
  • Pengelompokan manusia menjadi tiga golongan berdasarkan amalnya
  • Bukti kekuasaan Allah dalam penciptaan sebagai dalil kebangkitan
  • Keagungan Al-Quran sebagai wahyu dari Allah
  • Peringatan tentang kematian dan ketidakberdayaan manusia

Kandungan Surat

Ayat 1-6Kedahsyatan Hari Kiamat — ketika hari kiamat terjadi, bumi berguncang hebat dan gunung-gunung hancur menjadi debu beterbangan.
Ayat 7-26Golongan kanan (Ashabul Yamin) — orang-orang beriman yang mendapat kenikmatan surga, berada di antara pohon bidara dan pisang bersusun, air yang mengalir, dan buah-buahan berlimpah.
Ayat 10-14Golongan terdahulu (As-Sabiqunal Awwalun) — orang-orang yang paling dekat kepada Allah, mayoritas dari umat terdahulu, mendapat kedudukan tertinggi di surga.
Ayat 41-56Golongan kiri (Ashabul Syimal) — orang-orang yang mendapat azab berupa angin panas, air yang mendidih, dan naungan asap hitam.
Ayat 57-74Bukti kekuasaan Allah — dalil-dalil kebangkitan melalui penciptaan manusia, tumbuhan, air, dan api sebagai bukti bahwa Allah mampu menghidupkan kembali setelah kematian.
Ayat 75-82Keagungan Al-Quran — penegasan bahwa Al-Quran adalah wahyu dari Rabb semesta alam, bukan perkataan manusia, yang hanya dapat disentuh oleh orang-orang yang disucikan.
Ayat 83-96Peringatan kematian — ketika nyawa sampai di kerongkongan, tidak ada seorang pun yang mampu mengembalikannya, dan setiap golongan akan mendapat balasan sesuai amalnya.

Keutamaan

  • Diriwayatkan bahwa membaca surat Al-Waqiah setiap malam menjaga dari kefakiran (HR. Ibnu Sunni, sanad dha'if namun populer diamalkan).
  • Nabi ﷺ menyebutkan bahwa surat ini termasuk surat yang mempercepat tanda-tanda uban beliau karena kedahsyatan isinya.
  • Surat ini memberikan gambaran paling detail tentang tiga golongan manusia di akhirat: Sabiqun (terdepan), Ashabul Yamin (golongan kanan), dan Ashabul Syimal (golongan kiri).

Asbab Nuzul

Surat Al-Waqiah termasuk surat Makkiyah, urutan ke-46 dalam kronologi pewahyuan, turun antara surat Thaha dan Asy-Syu'ara. Surat ini turun pada masa ketika kaum musyrikin Mekkah sangat keras menolak konsep kebangkitan setelah kematian. Al-Waqiah hadir untuk menegaskan bahwa Hari Kiamat pasti terjadi dan tidak ada yang dapat menolaknya, sekaligus memberikan gambaran rinci tentang nasib tiga golongan manusia di akhirat.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Ma'ariful Quran — Mufti Muhammad Shafi, Sunan Ibnu Sunni

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
1

اِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُۙ

idzâ waqa‘atil-wâqi‘ah

Apabila terjadi hari Kiamat (yang pasti terjadi),

2

لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌۘ

laisa liwaq‘atihâ kâdzibah

tidak ada seorang pun yang (dapat) mendustakan terjadinya.

3

خَافِضَةٌ رَّافِعَةٌ

khâfidlatur râfi‘ah

(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).

4

اِذَا رُجَّتِ الْاَرْضُ رَجًّاۙ

idzâ rujjatil-ardlu rajjâ

Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya

5

وَّبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّاۙ

wa bussatil-jibâlu bassâ

dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya,

6

فَكَانَتْ هَبَاۤءً مُّنْۢبَثًّاۙ

fa kânat habâ'am mumbatstsâ

jadilah ia debu yang beterbangan.

7

وَّكُنْتُمْ اَزْوَاجًا ثَلٰثَةًۗ

wa kuntum azwâjan tsalâtsah

Kamu menjadi tiga golongan,

8

فَاَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِۗ

fa ash-ḫâbul-maimanati mâ ash-ḫâbul-maimanah

yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu

9

وَاَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِۗ

wa ash-ḫâbul-masy'amati mâ ash-ḫâbul-masy'amah

dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu.

10

وَالسّٰبِقُوْنَ السّٰبِقُوْنَۙ

was-sâbiqûnas-sâbiqûn

Selain itu, (golongan ketiga adalah) orang-orang yang paling dahulu (beriman). Merekalah yang paling dahulu (masuk surga).

11

اُولٰۤىِٕكَ الْمُقَرَّبُوْنَۚ

ulâ'ikal-muqarrabûn

Mereka itulah orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).

12

فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ

fî jannâtin-na‘îm

(Mereka) berada dalam surga (yang penuh) kenikmatan.

13

ثُلَّةٌ مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ

tsullatum minal-awwalîn

(Mereka adalah) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu

14

وَقَلِيْلٌ مِّنَ الْاٰخِرِيْنَۗ

wa qalîlum minal-âkhirîn

dan sedikit dari orang-orang yang (datang) kemudian.

15

عَلٰى سُرُرٍ مَّوْضُوْنَةٍۙ

‘alâ sururim maudlûnah

(Mereka berada) di atas dipan-dipan yang bertatahkan emas dan permata

16

مُّتَّكِـِٕيْنَ عَلَيْهَا مُتَقٰبِلِيْنَ

muttaki'îna ‘alaihâ mutaqâbilîn

seraya bersandar di atasnya saling berhadapan.

17

يَطُوْفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُوْنَۙ

yathûfu ‘alaihim wildânum mukhalladûn

Mereka dikelilingi oleh anak-anak yang selalu muda

18

بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَۙ وَكَأْسٍ مِّنْ مَّعِيْنٍۙ

bi'akwâbiw wa abârîqa wa ka'sim mim ma‘în

dengan (membawa) gelas, kendi, dan seloki (berisi minuman yang diambil) dari sumber yang mengalir.

19

لَّا يُصَدَّعُوْنَ عَنْهَا وَلَا يُنْزِفُوْنَۙ

lâ yushadda‘ûna ‘an-hâ wa lâ yunzifûn

Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk.

20

وَفَاكِهَةٍ مِّمَّا يَتَخَيَّرُوْنَۙ

wa fâkihatim mimmâ yatakhayyarûn

(Mereka menyuguhkan pula) buah-buahan yang mereka pilih

21

وَلَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُوْنَۗ

wa laḫmi thairim mimmâ yasytahûn

dan daging burung yang mereka sukai.

22

وَحُوْرٌ عِيْنٌۙ

wa ḫûrun ‘în

Ada bidadari yang bermata indah

23

كَاَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُوْنِۚ

ka'amtsâlil-lu'lu'il-maknûn

laksana mutiara yang tersimpan dengan baik

24

جَزَاۤءًۢ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

jazâ'am bimâ kânû ya‘malûn

sebagai balasan atas apa yang selama ini mereka kerjakan.

25

لَا يَسْمَعُوْنَ فِيْهَا لَغْوًا وَّلَا تَأْثِيْمًاۙ

lâ yasma‘ûna fîhâ laghwaw wa lâ ta'tsîmâ

Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia dan tidak (pula) percakapan yang menimbulkan dosa,

26

اِلَّا قِيْلًا سَلٰمًا سَلٰمًا

illâ qîlan salâman salâmâ

kecuali (yang mereka dengar hanyalah) ucapan, “Salam… salam.”

27

وَاَصْحٰبُ الْيَمِينِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْيَمِيْنِۗ

wa ash-ḫâbul-yamîni mâ ash-ḫâbul-yamîn

Golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu.

28

فِيْ سِدْرٍ مَّخْضُوْدٍۙ

fî sidrim makhdlûd

(Mereka) berada di antara pohon bidara yang tidak berduri,

29

وَّطَلْحٍ مَّنْضُوْدٍۙ

wa thal-ḫim mandlûd

pohon pisang yang (buahnya) bersusun-susun,

30

وَّظِلٍّ مَّمْدُوْدٍۙ

wa dhillim mamdûd

naungan yang terbentang luas,

31

وَّمَاۤءٍ مَّسْكُوْبٍۙ

wa mâ'im maskûb

air yang tercurah,

32

وَّفَاكِهَةٍ كَثِيْرَةٍۙ

wa fâkihating katsîrah

buah-buahan yang banyak

33

لَّا مَقْطُوْعَةٍ وَّلَا مَمْنُوْعَةٍۙ

lâ maqthû‘atiw wa lâ mamnû‘ah

yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang memetiknya,

34

وَّفُرُشٍ مَّرْفُوْعَةٍۗ

wa furusyim marfû‘ah

dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.

35

اِنَّآ اَنْشَأْنٰهُنَّ اِنْشَاۤءًۙ

innâ ansya'nâhunna insyâ'â

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari itu) secara langsung,

36

فَجَعَلْنٰهُنَّ اَبْكَارًاۙ

fa ja‘alnâhunna abkârâ

lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan

37

عُرُبًا اَتْرَابًاۙ

‘uruban atrâbâ

yang penuh cinta (lagi) sebaya umurnya,

38

لِّاَصْحٰبِ الْيَمِيْنِۗࣖ

li'ash-ḫâbil-yamîn

(diperuntukkan) bagi golongan kanan,

39

ثُلَّةٌ مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ

tsullatum minal-awwalîn

(yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu

40

وَثُلَّةٌ مِّنَ الْاٰخِرِيْنَۗ

wa tsullatum minal-âkhirîn

dan segolongan besar (pula) dari orang-orang yang kemudian.

41

وَاَصْحٰبُ الشِّمَالِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الشِّمَالِۗ

wa ash-ḫâbusy-syimâli mâ ash-ḫâbusy-syimâl

Golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu.

42

فِيْ سَمُوْمٍ وَّحَمِيْمٍۙ

fî samûmiw wa ḫamîm

(Mereka berada) dalam siksaan angin yang sangat panas, air yang mendidih,

43

وَّظِلٍّ مِّنْ يَّحْمُوْمٍۙ

wa dhillim miy yaḫmûm

dan naungan asap hitam

44

لَّا بَارِدٍ وَّلَا كَرِيْمٍ

lâ bâridiw wa lâ karîm

yang tidak sejuk dan tidak menyenangkan.

45

اِنَّهُمْ كَانُوْا قَبْلَ ذٰلِكَ مُتْرَفِيْنَۚ

innahum kânû qabla dzâlika mutrafîn

Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah.

46

وَكَانُوْا يُصِرُّوْنَ عَلَى الْحِنْثِ الْعَظِيْمِۚ

wa kânû yushirrûna ‘alal-ḫintsil-‘adhîm

Mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang besar.

47

وَكَانُوْا يَقُوْلُوْنَ ەۙ اَىِٕذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَّعِظَامًا ءَاِنَّا لَمَبْعُوْثُوْنَۙ

wa kânû yaqûlûna a idzâ mitnâ wa kunnâ turâbaw wa ‘idhâman a innâ lamab‘ûtsûn

Mereka berkata, “Apabila kami telahmati menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan (kembali)?

48

اَوَاٰبَاۤؤُنَا الْاَوَّلُوْنَ

a wa âbâ'unal-awwalûn

Apakah nenek moyang kami yang terdahulu (akan dibangkitkan pula)?”

49

قُلْ اِنَّ الْاَوَّلِيْنَ وَالْاٰخِرِيْنَۙ

qul innal-awwalîna wal-âkhirîn

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian

50

لَمَجْمُوْعُوْنَۙ اِلٰى مِيْقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُوْمٍ

lamajmû‘ûna ilâ mîqâti yaumim ma‘lûm

benar-benar akan dikumpulkan pada waktu tertentu, yaitu hari yang sudah diketahui.

51

ثُمَّ اِنَّكُمْ اَيُّهَا الضَّاۤ لُّوْنَ الْمُكَذِّبُوْنَۙ

tsumma innakum ayyuhadl-dlâllûnal-mukadzdzibûn

Kemudian, sesungguhnya kamu, wahai orang-orang sesat lagi pendusta,

52

لَاٰكِلُوْنَ مِنْ شَجَرٍ مِّنْ زَقُّوْمٍۙ

la'âkilûna min syajarim min zaqqûm

pasti akan memakan pohon zaqum.

53

فَمَالِـُٔوْنَ مِنْهَا الْبُطُوْنَۚ

fa mâli'ûna min-hal-buthûn

Lalu, kamu akan memenuhi perut-perutmu dengannya.

54

فَشٰرِبُوْنَ عَلَيْهِ مِنَ الْحَمِيْمِۚ

fa syâribûna ‘alaihi minal-ḫamîm

Setelah itu, untuk penawarnya (zaqum) kamu akan meminum air yang sangat panas.

55

فَشٰرِبُوْنَ شُرْبَ الْهِيْمِۗ

fa syâribûna syurbal-hîm

Maka, kamu minum bagaikan unta yang sangat haus.

56

هٰذَا نُزُلُهُمْ يَوْمَ الدِّيْنِۗ

hâdzâ nuzuluhum yaumad-dîn

Inilah hidangan (untuk) mereka pada hari Pembalasan.”

57

نَحْنُ خَلَقْنٰكُمْ فَلَوْلَا تُصَدِّقُوْنَ

naḫnu khalaqnâkum falau lâ tushaddiqûn

Kami telah menciptakanmu. Mengapa kamu tidak membenarkan (hari Kebangkitan)?

58

اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تُمْنُوْنَۗ

a fa ra'aitum mâ tumnûn

Apakah kamu memperhatikan apa yang kamu pancarkan (sperma)?

59

ءَاَنْتُمْ تَخْلُقُوْنَهٗٓ اَمْ نَحْنُ الْخٰلِقُوْنَ

a antum takhluqûnahû am naḫnul-khâliqûn

Apakah kamu yang menciptakannya atau Kami Penciptanya?

60

نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوْقِيْنَۙ

naḫnu qaddarnâ bainakumul-mauta wa mâ naḫnu bimasbûqîn

Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami tidak lemah

61

عَلٰٓى اَنْ نُّبَدِّلَ اَمْثَالَكُمْ وَنُنْشِئَكُمْ فِيْ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

‘alâ an nubaddila amtsâlakum wa nunsyi'akum fî mâ lâ ta‘lamûn

untuk mengubah bentukmu (di hari Kiamat) dan menciptakanmu kelak dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.

62

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ النَّشْاَةَ الْاُوْلٰى فَلَوْلَا تَذَكَّرُوْنَ

wa laqad ‘alimtumun-nasy'atal-ûlâ falau lâ tadzakkarûn

Sungguh, kamu benar-benar telah mengetahui penciptaan yang pertama. Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

63

اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تَحْرُثُوْنَۗ

a fa ra'aitum mâ taḫrutsûn

Apakah kamu memperhatikan benih yang kamu tanam?

64

ءَاَنْتُمْ تَزْرَعُوْنَهٗٓ اَمْ نَحْنُ الزّٰرِعُوْنَ

a antum tazra‘ûnahû am naḫnuz-zâri‘ûn

Apakah kamu yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkan?

65

لَوْ نَشَاۤءُ لَجَعَلْنٰهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُوْنَۙ

lau nasyâ'u laja‘alnâhu huthâman fa dhaltum tafakkahûn

Seandainya Kami berkehendak, Kami benar-benar menjadikannya hancur sehingga kamu menjadi heran tercengang,

66

اِنَّا لَمُغْرَمُوْنَۙ

innâ lamughramûn

(sambil berkata,) “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian.

67

بَلْ نَحْنُ مَحْرُوْمُوْنَ

bal naḫnu mahrûmûn

Bahkan, kami tidak mendapat hasil apa pun.”

68

اَفَرَءَيْتُمُ الْمَاۤءَ الَّذِيْ تَشْرَبُوْنَۗ

a fa ra'aitumul-mâ'alladzî tasyrabûn

Apakah kamu memperhatikan air yang kamu minum?

69

ءَاَنْتُمْ اَنْزَلْتُمُوْهُ مِنَ الْمُزْنِ اَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُوْنَ

a antum anzaltumûhu minal-muzni am naḫnul-munzilûn

Apakah kamu yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkan?

70

لَوْ نَشَاۤءُ جَعَلْنٰهُ اُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُوْنَ

lau nasyâ'u ja‘alnâhu ujâjan falau lâ tasykurûn

Seandainya Kami berkehendak, Kami menjadikannya asin. Mengapa kamu tidak bersyukur?

71

اَفَرَءَيْتُمُ النَّارَ الَّتِيْ تُوْرُوْنَۗ

a fa ra'aitumun-nârallatî tûrûn

Apakah kamu memperhatikan api yang kamu nyalakan?

72

ءَاَنْتُمْ اَنْشَأْتُمْ شَجَرَتَهَآ اَمْ نَحْنُ الْمُنْشِـُٔوْنَ

a antum ansya'tum syajaratahâ am naḫnul-munsyi'ûn

Apakah kamu yang menumbuhkan kayunya atau Kami yang menumbuhkan?

73

نَحْنُ جَعَلْنٰهَا تَذْكِرَةً وَّمَتَاعًا لِّلْمُقْوِيْنَۚ

naḫnu ja‘alnâhâ tadzkirataw wa matâ‘al lil-muqwîn

Kami menjadikannya (api itu) sebagai peringatan dan manfaat bagi para musafir.

74

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِࣖ

fa sabbiḫ bismi rabbikal-‘adhîm

Maka, bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahaagung.

75

فَلَآ اُقْسِمُ بِمَوٰقِعِ النُّجُوْمِ

fa lâ uqsimu bimawâqi‘in-nujûm

Aku bersumpah demi tempat beredarnya bintang-bintang.

76

وَاِنَّهٗ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُوْنَ عَظِيْمٌۙ

wa innahû laqasamul lau ta‘lamûna ‘adhîm

Sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang sangat besar seandainya kamu mengetahui.

77

اِنَّهٗ لَقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌۙ

innahû laqur'ânung karîm

Sesungguhnya ia benar-benar Al-Qur’an yang sangat mulia,

78

فِيْ كِتٰبٍ مَّكْنُوْنٍۙ

fî kitâbim maknûn

dalam Kitab yang terpelihara.

79

لَّا يَمَسُّهٗٓ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَۙ

lâ yamassuhû illal-muthahharûn

Tidak ada yang menyentuhnya, kecuali para hamba (Allah) yang disucikan.

80

تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ

tanzîlum mir rabbil-‘âlamîn

(Al-Qur’an) diturunkan dari Tuhan seluruh alam.

81

اَفَبِهٰذَا الْحَدِيْثِ اَنْتُمْ مُّدْهِنُوْنَ

a fa bihâdzal-ḫadîtsi antum mud-hinûn

Apakah kamu menganggap remeh berita ini (Al-Qur’an)

82

وَتَجْعَلُوْنَ رِزْقَكُمْ اَنَّكُمْ تُكَذِّبُوْنَ

wa taj‘alûna rizqakum annakum tukadzdzibûn

dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan (Al-Qur’an)?

83

فَلَوْلَآ اِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُوْمَۙ

falau lâ idzâ balaghatil-ḫulqûm

Kalau begitu, mengapa (kamu) tidak (menahan nyawa) ketika telah sampai di kerongkongan,

84

وَاَنْتُمْ حِيْنَىِٕذٍ تَنْظُرُوْنَۙ

wa antum ḫîna'idzin tandhurûn

padahal kamu ketika itu melihat (orang yang sedang sekarat)?

85

وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلٰكِنْ لَّا تُبْصِرُوْنَ

wa naḫnu aqrabu ilaihi mingkum wa lâkil lâ tubshirûn

Kami lebih dekat kepadanya (orang yang sedang sekarat) daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat.

86

فَلَوْلَآ اِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِيْنِيْنَۙ

falau lâ ing kuntum ghaira madînîn

Maka, mengapa jika kamu tidak diberi balasan,

87

تَرْجِعُوْنَهَآ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

tarji‘ûnahâ ing kuntum shâdiqîn

kamu tidak mengembalikannya (nyawa itu) jika kamu orang-orang yang benar?

88

فَاَمَّآ اِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَۙ

fa ammâ ing kâna minal-muqarrabîn

Jika dia (orang yang mati) itu termasuk yang didekatkan (kepada Allah),

89

فَرَوْحٌ وَّرَيْحَانٌ ەۙ وَّجَنَّتُ نَعِيْمٍ

fa rauḫuw wa raiḫânuw wa jannatu na‘îm

dia memperoleh ketenteraman, rezeki, dan surga (yang penuh) kenikmatan.

90

وَاَمَّآ اِنْ كَانَ مِنْ اَصْحٰبِ الْيَمِيْنِۙ

wa ammâ ing kâna min ash-ḫâbil-yamîn

Jika dia (termasuk) golongan kanan,

91

فَسَلٰمٌ لَّكَ مِنْ اَصْحٰبِ الْيَمِيْنِۗ

fa salâmul laka min ash-ḫâbil-yamîn

“Salam bagimu” dari (sahabatmu,) golongan kanan.

92

وَاَمَّآ اِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِيْنَ الضَّاۤلِّيْنَۙ

wa ammâ ing kâna minal-mukadzdzibînadl-dlâllîn

Jika dia termasuk golongan para pendusta lagi sesat,

93

فَنُزُلٌ مِّنْ حَمِيْمٍۙ

fa nuzulum min ḫamîm

jamuannya berupa air mendidih

94

وَّتَصْلِيَةُ جَحِيْمٍ

wa tashliyatu jaḫîm

dan dibakar oleh (neraka) Jahim.

95

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِيْنِۚ

inna hâdzâ lahuwa ḫaqqul-yaqîn

Sesungguhnya ini benar-benar merupakan hakulyakin.

96

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِࣖ

fa sabbiḫ bismi rabbikal-‘adhîm

Maka, bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahaagung.

Anda baru saja membaca Surat Al-Waqi'ah.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.

Donasi Sekarang

Pertanyaan Umum tentang Surat Al-Waqi'ah

Apa keutamaan membaca Surat Al-Waqiah setiap malam?

Surat Al-Waqiah dikenal sebagai surat kekayaan. Berdasarkan riwayat Ibnu Mas'ud, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang membaca Surat Al-Waqiah setiap malam, ia tidak akan ditimpa kefakiran.

Apa isi kandungan utama Surat Al-Waqiah?

Surat Al-Waqiah menjelaskan tiga golongan manusia di hari kiamat: As-Sabiquun (golongan terdahulu), Ashabul Yamin (golongan kanan), dan Ashabul Syimal (golongan kiri). Juga menjelaskan bukti kebesaran Allah dalam penciptaan.

Kapan waktu terbaik membaca Surat Al-Waqiah?

Surat Al-Waqiah dianjurkan dibaca setiap malam sebelum tidur. Sebagian ulama juga menganjurkan membacanya setelah shalat Maghrib sebagai amalan rutin harian.

Apakah teks Surat Al-Waqiah di LiteQuran sesuai standar Kemenag RI?

Ya, seluruh teks Arab, transliterasi Latin, dan terjemahan Surat Al-Waqiah di LiteQuran merujuk pada data resmi Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI).

Apa isi kandungan Surat Al-Waqi'ah?

Al-Waqiah membagi manusia di hari kiamat menjadi tiga golongan: as-sabiqun (golongan terdepan yang paling utama), ashab al-yamin (golongan kanan), dan ashab asy-syimal (golongan kiri yang celaka). Surat ini juga menegaskan kemuliaan Al-Quran yang tersimpan dalam Kitab yang terpelihara dan disunahkan membacanya setiap malam. Surat Al-Waqi'ah terdiri dari 96 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).

Berapa jumlah ayat Surat Al-Waqi'ah?

Surat Al-Waqi'ah terdiri dari 96 ayat dan terdapat pada juz 27 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 19 menit (disarankan dibaca bertahap).

Mengapa surat ini dinamakan Al-Waqi'ah (Hari Kiamat)?

Nama "Al-Waqi'ah" (الواقعة) berarti "Hari Kiamat" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-56 dalam urutan mushaf Al-Quran.

Apakah Surat Al-Waqi'ah Makkiyah atau Madaniyah?

Surat Al-Waqi'ah termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.

Kapan waktu terbaik membaca Surat Al-Waqi'ah?

Surat Al-Waqi'ah dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.

Apa keutamaan membaca Surat Al-Waqi'ah?

Diriwayatkan bahwa membaca surat Al-Waqiah setiap malam menjaga dari kefakiran (HR. Ibnu Sunni, sanad dha'if namun populer diamalkan). Nabi ﷺ menyebutkan bahwa surat ini termasuk surat yang mempercepat tanda-tanda uban beliau karena kedahsyatan isinya. Surat ini memberikan gambaran paling detail tentang tiga golongan manusia di akhirat: Sabiqun (terdepan), Ashabul Yamin (golongan kanan), dan Ashabul Syimal (golongan kiri).

Apakah membaca Surat Al-Waqi'ah di LiteQuran benar-benar gratis dan tanpa iklan?

Ya, LiteQuran menyediakan Surat Al-Waqi'ah lengkap dengan teks Arab, Latin, terjemahan, tafsir, dan audio murottal secara 100% gratis dan tanpa iklan sama sekali. Halaman dimuat sangat cepat karena tidak ada script iklan yang memperlambat. Anda bisa fokus membaca Al-Quran tanpa gangguan pop-up atau banner iklan.