عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ
‘abasa wa tawallâ
Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling
Baca Surat Abasa (Ia Bermuka Masam — عبس) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 42 ayat Makkiyah (Juz 30) — surat ke-80 dalam Al-Quran.
Abasa berisi teguran halus Allah kepada Rasulullah yang bermuka masam dan berpaling dari Abdullah ibnu Ummi Maktum yang buta, karena lebih mementingkan dakwah kepada pembesar Quraisy yang menolaknya. Ini mengajarkan prinsip persamaan dalam Islam bahwa orang yang sungguh-sungguh ingin belajar harus diprioritaskan tanpa memandang status sosial..
Surat 'Abasa turun berkaitan dengan peristiwa ketika Nabi ﷺ sedang berdakwah kepada pembesar-pembesar Quraisy seperti Utbah bin Rabi'ah, Abu Jahl, dan Al-Abbas bin Abdul Muththalib, berharap mereka masuk Islam. Saat itu datanglah Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat buta, meminta bimbingan agama. Nabi ﷺ bermuka masam dan berpaling, lalu Allah menurunkan teguran ini sebagai pelajaran bahwa ketulusan hati lebih utama daripada kedudukan sosial.
Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ath-Thabari, Asbabun Nuzul, Al-Wahidi
عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ
‘abasa wa tawallâ
Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling
اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ
an jâ'ahul-a‘mâ
karena seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya.
وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ
wa mâ yudrîka la‘allahû yazzakkâ
Tahukah engkau (Nabi Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa)
اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ
au yadzdzakkaru fa tanfa‘ahudz-dzikrâ
atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran sehingga pengajaran itu bermanfaat baginya?
اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ
ammâ manistaghnâ
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy),
فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ
fa anta lahû tashaddâ
engkau (Nabi Muhammad) memberi perhatian kepadanya.
وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ
wa mâ ‘alaika allâ yazzakkâ
Padahal, tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).
وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ
wa ammâ man jâ'aka yas‘â
Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
وَهُوَ يَخْشٰىۙ
wa huwa yakhsyâ
sedangkan dia takut (kepada Allah),
فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ
fa anta ‘an-hu talahhâ
malah engkau (Nabi Muhammad) abaikan.
كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌۚ
kallâ innahâ tadzkirah
Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan.
فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗۘ
fa man syâ'a dzakarah
Siapa yang menghendaki tentulah akan memperhatikannya
فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ
fî shuḫufim mukarramah
di dalam suhuf yang dimuliakan (di sisi Allah),
مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢۙ
marfû‘atim muthahharah
yang ditinggikan (kedudukannya) lagi disucikan
بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ
bi'aidî safarah
di tangan para utusan (malaikat)
كِرَامٍ ۢ بَرَرَةٍۗ
kirâmim bararah
yang mulia lagi berbudi.
قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ
qutilal-insânu mâ akfarah
Celakalah manusia! Alangkah kufur dia!
مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ
min ayyi syai'in khalaqah
Dari apakah Dia menciptakannya?
مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ
min nuthfah, khalaqahû fa qaddarah
Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukan (takdir)-nya.
ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ
tsummas-sabîla yassarah
Kemudian, jalannya Dia mudahkan.
ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ
tsumma amâtahû fa aqbarah
Kemudian, Dia mematikannya lalu menguburkannya.
ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ
tsumma idzâ syâ'a ansyarah
Kemudian, jika menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.
كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ اَمَرَهٗۗ
kallâ lammâ yaqdli mâ amarah
Sekali-kali jangan (begitu)! Dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya.
فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓۙ
falyandhuril-insânu ilâ tha‘âmih
Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.
اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ
annâ shababnal-mâ'a shabbâ
Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan berlimpah.
ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّاۙ
tsumma syaqaqnal-ardla syaqqâ
Kemudian, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.
فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ
fa ambatnâ fîhâ ḫabbâ
Lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian,
وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ
wa ‘inabaw wa qadlbâ
anggur, sayur-sayuran,
وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ
wa zaitûnaw wa nakhlâ
zaitun, pohon kurma,
وَّحَدَاۤئِقَ غُلْبًا
wa ḫadâ'iqa ghulbâ
kebun-kebun (yang) rindang,
وَفَاكِهَةً وَّاَبًّا
wa fâkihataw wa abbâ
buah-buahan, dan rerumputan.
مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ
matâ‘al lakum wa li'an‘âmikum
(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu.
فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُۖ
fa idzâ jâ'atish-shâkhkhah
Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala),
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ
yauma yafirrul-mar'u min akhîh
pada hari itu manusia lari dari saudaranya,
وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ
wa ummihî wa abîh
(dari) ibu dan bapaknya,
وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ
wa shâḫibatihî wa banîh
serta (dari) istri dan anak-anaknya.
لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِۗ
likullimri'im min-hum yauma'idzin sya'nuy yughnîh
Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.
وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ
wujûhuy yauma'idzim musfirah
Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri,
ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌۚ
dlâḫikatum mustabsyirah
tertawa lagi gembira ria.
وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۙ
wa wujûhuy yauma'idzin ‘alaihâ ghabarah
Pada hari itu ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram)
تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌۗ
tarhaquhâ qatarah
dan tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan).
اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُࣖ
ulâ'ika humul-kafaratul-fajarah
Mereka itulah orang-orang kafir lagi para pendurhaka.
Anda baru saja membaca Surat Abasa.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.
Abasa berisi teguran halus Allah kepada Rasulullah yang bermuka masam dan berpaling dari Abdullah ibnu Ummi Maktum yang buta, karena lebih mementingkan dakwah kepada pembesar Quraisy yang menolaknya. Ini mengajarkan prinsip persamaan dalam Islam bahwa orang yang sungguh-sungguh ingin belajar harus diprioritaskan tanpa memandang status sosial. Surat Abasa terdiri dari 42 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).
Surat Abasa terdiri dari 42 ayat dan terdapat pada juz 30 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 8 menit.
Nama "Abasa" (عبس) berarti "Ia Bermuka Masam" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-80 dalam urutan mushaf Al-Quran.
Surat Abasa termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.
Surat Abasa dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.
Surat ini menjadi bukti keadilan Al-Quran — bahkan Nabi ﷺ sendiri ditegur oleh Allah, menunjukkan bahwa Al-Quran bukan buatan manusia. Abdullah bin Ummi Maktum kemudian diangkat Nabi ﷺ sebagai muazin kedua di Madinah dan berkali-kali ditunjuk sebagai pengganti beliau memimpin Madinah saat perang. Surat ini menegaskan bahwa dalam dakwah, orang yang rendah hati dan ingin belajar lebih berhak mendapat perhatian daripada orang yang sombong meski berkedudukan tinggi.
Ya, LiteQuran menyediakan Surat Abasa lengkap dengan teks Arab, Latin, terjemahan, tafsir, dan audio murottal secara 100% gratis dan tanpa iklan sama sekali. Halaman dimuat sangat cepat karena tidak ada script iklan yang memperlambat. Anda bisa fokus membaca Al-Quran tanpa gangguan pop-up atau banner iklan.