Surat As Saffat

Barisan-Barisan • Makkiyah • 182 ayat

Tentang Surat As-Saffat

Baca Surat As-Saffat (Barisan-Barisan — الصافات) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 182 ayat Makkiyah (Juz 23) — surat ke-37 dalam Al-Quran.

As-Saffat diawali dengan sumpah demi malaikat yang berbaris di hadapan Allah, kemudian mengisahkan ujian terbesar Nabi Ibrahim saat diperintahkan menyembelih putranya Ismail yang diganti dengan sembelihan agung. Surat ini juga mengisahkan Nabi Nuh, Musa, Harun, Ilyas, Luth, dan Yunus dalam perut ikan..

Tema Utama

  • Keesaan Allah dan penolakan terhadap kemusyrikan
  • Barisan malaikat yang taat beribadah kepada Allah
  • Kisah para nabi — Ibrahim, Ismail, Nuh, Musa, Harun, Ilyas, Luth, dan Yunus
  • Pengorbanan agung Ibrahim dalam menyembelih putranya
  • Balasan bagi orang beriman dan azab bagi orang musyrik

Kandungan Surat

Ayat 1-10Sumpah Allah dengan barisan malaikat — malaikat yang berbaris rapi, yang menggiring awan, dan yang membacakan wahyu, sebagai bukti keesaan Tuhan semesta alam.
Ayat 11-74Dialog orang kafir di hari kiamat — penolakan mereka terhadap kebangkitan di dunia, penyesalan mereka di akhirat, gambaran azab neraka dengan pohon zaqqum, dan kenikmatan surga bagi orang beriman.
Ayat 75-82Kisah Nabi Nuh — doa Nuh yang dikabulkan Allah, keselamatan beliau dan pengikutnya dari banjir besar, serta ditenggelamkannya kaum yang mendustakan.
Ayat 83-113Kisah Nabi Ibrahim — perdebatan dengan kaumnya tentang berhala, penghancuran berhala, dilemparkan ke api namun diselamatkan Allah, serta ujian menyembelih putranya Ismail yang digantikan dengan sembelihan besar.
Ayat 114-132Kisah Nabi Musa dan Harun — pertolongan Allah kepada keduanya, serta kisah Nabi Ilyas yang menyeru kaumnya meninggalkan penyembahan Baal.
Ayat 133-148Kisah Nabi Luth dan Nabi Yunus — azab kaum Luth yang melakukan perbuatan keji, dan kisah Yunus yang ditelan ikan besar lalu bertasbih sehingga diselamatkan Allah.
Ayat 149-182Bantahan terhadap kemusyrikan — penolakan anggapan bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah, penegasan kemuliaan hamba Allah yang ikhlas, dan penutup dengan tasbih kepada Allah.

Keutamaan

  • Surat ini mengandung kisah pengorbanan agung Nabi Ibrahim yang menjadi dasar syariat kurban (Idul Adha) dalam Islam.
  • Mengandung pelajaran tentang ketaatan total kepada perintah Allah, sebagaimana dicontohkan Ibrahim dan Ismail.
  • Surat ini menegaskan bahwa malaikat adalah hamba Allah yang mulia, bukan anak-anak Allah sebagaimana klaim kaum musyrikin.
  • Menampilkan kisah Nabi Yunus sebagai teladan bertaubat dan bertasbih di saat kesulitan.

Asbab Nuzul

Surat As-Saffat adalah surat Makkiyah yang turun di Mekkah pada periode pertengahan dakwah. Surat ini turun dalam konteks meluruskan akidah kaum Quraisy yang menyembah berhala, menganggap malaikat sebagai anak perempuan Allah, dan mengingkari hari kebangkitan. Allah menurunkan surat ini untuk menegaskan keesaan-Nya melalui kisah-kisah para nabi terdahulu dan perjuangan mereka melawan kemusyrikan.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ath-Thabari, Shahih Bukhari, Shahih Muslim

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
1

وَالصّٰۤفّٰتِ صَفًّاۙ

wash-shâffâti shaffâ

Demi (rombongan malaikat) yang berbaris bersaf-saf, (untuk beribadah kepada Allah),

2

فَالزّٰجِرٰتِ زَجْرًاۙ

faz-zâjirâti zajrâ

demi (rombongan malaikat) yang mencegah (segala sesuatu) dengan sungguh-sungguh,

3

فَالتّٰلِيٰتِ ذِكْرًاۙ

fat-tâliyâti dzikrâ

demi (rombongan malaikat) yang membacakan peringatan,

4

اِنَّ اِلٰهَكُمْ لَوَاحِدٌۗ

inna ilâhakum lawâḫid

sungguh, Tuhanmu benar-benar Esa.

5

رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِۗ

rabbus-samâwâti wal-ardli wa mâ bainahumâ wa rabbul-masyâriq

Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbitnya matahari.

6

اِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِزِيْنَةِ ࣙالْكَوَاكِبِۙ

innâ zayyannas-samâ'ad-dun-yâ bizînatinil-kawâkib

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia (yang terdekat) dengan hiasan (berupa) bintang-bintang.

7

وَحِفْظًا مِّنْ كُلِّ شَيْطٰنٍ مَّارِدٍۚ

wa ḫifdham ming kulli syaithânim mârid

(Kami telah menjaganya dengan) penjagaan yang sempurna dari setiap setan yang durhaka.

8

لَا يَسَّمَّعُوْنَ اِلَى الْمَلَاِ الْاَعْلٰى وَيُقْذَفُوْنَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍۖ

lâ yassamma‘ûna ilal-mala'il-a‘lâ wa yuqdzafûna ming kulli jânib

Mereka (setan-setan) tidak dapat mendengar (percakapan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru

9

دُحُوْرًا وَّلَهُمْ عَذَابٌ وَّاصِبٌ

duḫûraw wa lahum ‘adzâbuw wâshib

untuk mengusir mereka. Bagi mereka azab yang kekal (di akhirat),

10

اِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَاَتْبَعَهٗ شِهَابٌ ثَاقِبٌ

illâ man khathifal-khathfata fa atba‘ahû syihâbun tsâqib

kecuali (setan) yang menyambar pembicaraan dengan sekali sambar; maka ia dikejar oleh bintang yang menyala.

11

فَاسْتَفْتِهِمْ اَهُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمْ مَّنْ خَلَقْنَاۗ اِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّنْ طِيْنٍ لَّازِبٍ

fastaftihim a hum asyaddu khalqan am man khalaqnâ, innâ khalaqnâhum min thînil lâzib

Maka, tanyakanlah kepada mereka (musyrik Makkah), “Apakah mereka (manusia) lebih sulit penciptaannya ataukah selainnya (langit, bumi, dan lainnya) yang telah Kami ciptakan?” Sesungguhnya Kami telah menciptakan (bapak) mereka (Adam) dari tanah liat.

12

بَلْ عَجِبْتَ وَيَسْخَرُوْنَۖ

bal ‘ajibta wa yaskharûn

Bahkan, engkau (Nabi Muhammad) menjadi heran (terhadap keingkaran mereka) dan mereka selalu menghinamu.

13

وَاِذَا ذُكِّرُوْا لَا يَذْكُرُوْنَۖ

wa idzâ dzukkirû lâ yadzkurûn

Apabila diberi peringatan, mereka tidak mengingat (mengindahkannya).

14

وَاِذَا رَاَوْا اٰيَةً يَّسْتَسْخِرُوْنَۖ

wa idzâ ra'au âyatay yastaskhirûn

Apabila melihat suatu tanda (kebesaran Allah atau kebenaran Nabi Muhammad), mereka sangat menghina.

15

وَقَالُوْٓا اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌۚ

wa qâlû in hâdzâ illâ siḫrum mubîn

Mereka berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.

16

ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَّعِظَامًا ءَاِنَّا لَمَبْعُوْثُوْنَۙ

a idzâ mitnâ wa kunnâ turâbaw wa ‘idhâman a innâ lamab‘ûtsûn

Apabila kami telah mati, (lalu) menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan?

17

اَوَاٰبَاۤؤُنَا الْاَوَّلُوْنَۗ

a wa âbâ'unal-awwalûn

Apakah nenek moyang kami yang terdahulu (akan dibangkitkan pula)?”

18

قُلْ نَعَمْ وَاَنْتُمْ دٰخِرُوْنَۚ

qul na‘am wa antum dâkhirûn

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Ya (kamu akan dibangkitkan) dan kamu akan terhina.”

19

فَاِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَّاحِدَةٌ فَاِذَا هُمْ يَنْظُرُوْنَ

fa innamâ hiya zajratuw wâḫidatun fa idzâ hum yandhurûn

Sesungguhnya kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan (tiupan sangkakala kedua). Maka, seketika itu mereka (bangun dari kematiannya) melihat (apa yang terjadi).

20

وَقَالُوْا يٰوَيْلَنَا هٰذَا يَوْمُ الدِّيْنِ

wa qâlû yâ wailanâ hâdzâ yaumud-dîn

Mereka berkata, “Alangkah celaka kami! (Kiranya) inilah hari Pembalasan itu.”

21

هٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَࣖ

hâdzâ yaumul-fashlilladzî kuntum bihî tukadzdzibûn

Inilah hari keputusan yang dahulu (selalu) kamu dustakan.

22

اُحْشُرُوا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا وَاَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوْا يَعْبُدُوْنَۙ

uḫsyurulladzîna dhalamû wa azwâjahum wa mâ kânû ya‘budûn

(Lalu, diperintahkan kepada para malaikat,) “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah

23

مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَاهْدُوْهُمْ اِلٰى صِرَاطِ الْجَحِيْمِ

min dûnillâhi fahdûhum ilâ shirâthil-jaḫîm

selain Allah. Lalu, tunjukkanlah kepada mereka jalan ke (neraka) Jahim.

24

وَقِفُوْهُمْ اِنَّهُمْ مَّسْـُٔوْلُوْنَۙ

waqifûhum innahum mas'ûlûn

Tahanlah mereka (di tempat perhentian). Sesungguhnya mereka akan ditanya (tentang keyakinan dan perilaku mereka).”

25

مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُوْنَ

mâ lakum lâ tanâsharûn

(Mereka lalu dikecam,) “Mengapa kamu tidak tolong-menolong (sebagaimana kamu di dunia)?”

26

بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُوْنَ

bal humul-yauma mustaslimûn

Bahkan, mereka pada hari itu menyerah (kepada putusan Allah).

27

وَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ

wa aqbala ba‘dluhum ‘alâ ba‘dliy yatasâ'alûn

Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertanya (berbantah-bantahan).

28

قَالُوْٓا اِنَّكُمْ كُنْتُمْ تَأْتُوْنَنَا عَنِ الْيَمِيْنِ

qâlû innakum kuntum ta'tûnanâ ‘anil-yamîn

(Pengikut) mereka berkata (kepada pemimpinnya), “Sesungguhnya kamulah yang dahulu selalu mendatangi kami dari arah kanan (untuk menghalangi kami dari kebajikan).”

29

قَالُوْا بَلْ لَّمْ تَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَۚ

qâlû bal lam takûnû mu'minîn

(Pemimpin) mereka menjawab, “(Tidak,) bahkan kamulah yang tidak (mau) menjadi orang mukmin.

30

وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍۚ بَلْ كُنْتُمْ قَوْمًا طٰغِيْنَ

wa mâ kâna lanâ ‘alaikum min sulthân, bal kuntum qauman thâghîn

(Sebenarnya,) kami sedikit pun tidak berkuasa terhadapmu (untuk menghalang-halangimu), bahkan kamulah kaum yang melampaui batas.

31

فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَآۖ اِنَّا لَذَاۤىِٕقُوْنَ

fa ḫaqqa ‘alainâ qaulu rabbinâ innâ ladzâ'iqûn

Maka, putusan (azab) Tuhan (akan) benar-benar menimpa kita. Pasti kita akan merasakan (azab itu).

32

فَاَغْوَيْنٰكُمْ اِنَّا كُنَّا غٰوِيْنَ

fa aghwainâkum innâ kunnâ ghâwîn

Kami (mengakui) telah menyesatkan kamu. Sesungguhnya kami sendiri orang-orang yang sesat.”

33

فَاِنَّهُمْ يَوْمَىِٕذٍ فِى الْعَذَابِ مُشْتَرِكُوْنَ

fa innahum yauma'idzin fil-‘adzâbi musytarikûn

Sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama merasakan azab.

34

اِنَّا كَذٰلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِيْنَ

innâ kadzâlika naf‘alu bil-mujrimîn

Sesungguhnya demikianlah Kami memperlakukan orang-orang yang berbuat dosa.

35

اِنَّهُمْ كَانُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ يَسْتَكْبِرُوْنَۙ

innahum kânû idzâ qîla lahum lâ ilâha illallâhu yastakbirûn

Sesungguhnya dahulu apabila dikatakan kepada mereka, “Lā ilāha illallāh” (Tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah), mereka menyombongkan diri.

36

وَيَقُوْلُوْنَ اَىِٕنَّا لَتَارِكُوْٓا اٰلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُوْنٍۗ

wa yaqûlûna a innâ latârikû âlihatinâ lisyâ‘irim majnûn

Mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?”

37

بَلْ جَاۤءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِيْنَ

bal jâ'a bil-ḫaqqi wa shaddaqal-mursalîn

Padahal dia (Nabi Muhammad) datang dengan membawa kebenaran dan membenarkan para rasul (sebelumnya).

38

اِنَّكُمْ لَذَاۤىِٕقُوا الْعَذَابِ الْاَلِيْمِۚ

innakum ladzâ'iqul-‘adzâbil-alîm

Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih.

39

وَمَا تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۙ

wa mâ tujzauna illâ mâ kuntum ta‘malûn

Kamu tidak diberi balasan, kecuali terhadap apa yang telah kamu kerjakan.

40

اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ

illâ ‘ibâdallâhil-mukhlashîn

Akan tetapi, hamba-hamba Allah yang terpilih (karena keikhlasannya),

41

اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَّعْلُوْمٌۙ

ulâ'ika lahum rizqum ma‘lûm

mereka itu memperoleh rezeki yang sudah ditentukan,

42

فَوَاكِهُۚ وَهُمْ مُّكْرَمُوْنَۙ

fawâkih, wa hum mukramûn

(yaitu) buah-buahan. Mereka adalah orang-orang yang dimuliakan

43

فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِۙ

fî jannâtin na‘îm

di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.

44

عَلٰى سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِيْنَ

‘alâ sururim mutaqâbilîn

(Mereka duduk) berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.

45

يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِكَأْسٍ مِّنْ مَّعِيْنٍۢۙ

yuthâfu ‘alaihim bika'sim mim ma‘în

Kepada mereka diedarkan gelas (yang berisi minuman) dari mata air (surga).

46

بَيْضَاۤءَ لَذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيْنَۚ

baidlâ'a ladzdzatil lisy-syâribîn

(Warnanya) putih bersih dan lezat rasanya bagi orang-orang yang meminum(-nya).

47

لَا فِيْهَا غَوْلٌ وَّلَا هُمْ عَنْهَا يُنْزَفُوْنَ

lâ fîhâ ghauluw wa lâ hum ‘an-hâ yunzafûn

Tidak ada di dalamnya (unsur) yang membahayakan dan mereka tidak mabuk karenanya.

48

وَعِنْدَهُمْ قٰصِرٰتُ الطَّرْفِ عِيْنٌۙ

wa ‘indahum qâshirâtuth-tharfi ‘în

Di sisi mereka ada (bidadari-bidadari) yang bermata indah dan membatasi pandangannya (dari selain pasangan mereka).

49

كَاَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَّكْنُوْنٌ

ka'annahunna baidlum maknûn

(Warna kulit) mereka seperti (warna) telur yang tersimpan dengan baik.

50

فَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ

fa aqbala ba‘dluhum ‘alâ ba‘dliy yatasâ'alûn

Mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap.

51

قَالَ قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ اِنِّيْ كَانَ لِيْ قَرِيْنٌۙ

qâla qâ'ilum min-hum innî kâna lî qarîn

Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) pernah mempunyai seorang teman

52

يَّقُوْلُ اَءِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِيْنَ

yaqûlu a innaka laminal-mushaddiqîn

yang berkata, ‘Apakah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang membenarkan (hari Kebangkitan)?

53

ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَّعِظَامًا ءَاِنَّا لَمَدِيْنُوْنَ

a idzâ mitnâ wa kunnâ turâbaw wa ‘idhâman a innâ lamadînûn

Apabila kami telah mati (lalu) menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar (akan dibangkitkan untuk) diberi balasan?’”

54

قَالَ هَلْ اَنْتُمْ مُّطَّلِعُوْنَ

qâla hal antum muththali‘ûn

Dia berkata, “Maukah kamu menengok (temanku itu)?”

55

فَاطَّلَعَ فَرَاٰهُ فِيْ سَوَاۤءِ الْجَحِيْمِ

faththala‘a fa ra'âhu fî sawâ'il-jaḫîm

Maka, dia menengoknya. Lalu, dia melihat (teman)-nya itu di tengah-tengah (neraka) Jahim.

56

قَالَ تَاللّٰهِ اِنْ كِدْتَّ لَتُرْدِيْنِۙ

qâla tallâhi ing kitta laturdîn

Dia berkata, “Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku.

57

وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّيْ لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِيْنَ

walau lâ ni‘matu rabbî lakuntu minal-muḫdlarîn

Sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).

58

اَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِيْنَۙ

a fa mâ naḫnu bimayyitîn

Apakah kita tidak akan mati,

59

اِلَّا مَوْتَتَنَا الْاُوْلٰى وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِيْنَ

illâ mautatanal-ûlâ wa mâ naḫnu bimu‘adzdzabîn

kecuali kematian kita yang pertama saja (di dunia) dan kita tidak akan diazab (di akhirat ini)?”

60

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

inna hâdzâ lahuwal-fauzul-‘adhîm

Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang agung.

61

لِمِثْلِ هٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعٰمِلُوْنَ

limitsli hâdzâ falya‘malil-‘âmilûn

Untuk (kemenangan) seperti ini, hendaklah beramal (di dunia) orang-orang yang mampu beramal.

62

اَذٰلِكَ خَيْرٌ نُّزُلًا اَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّوْمِ

a dzâlika khairun nuzulan am syajaratuz-zaqqûm

Apakah (makanan surga) itu hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqum?

63

اِنَّا جَعَلْنٰهَا فِتْنَةً لِّلظّٰلِمِيْنَ

innâ ja‘alnâhâ fitnatal lidh-dhâlimîn

Sesungguhnya Kami menjadikannya (pohon zaqum itu) sebagai azab bagi orang-orang zalim.

64

اِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِيْٓ اَصْلِ الْجَحِيْمِۙ

innahâ syajaratun takhruju fî ashlil-jaḫîm

Sesungguhnya itu adalah pohon yang keluar dari dasar (neraka) Jahim.

65

طَلْعُهَا كَاَنَّهٗ رُءُوْسُ الشَّيٰطِيْنِ

thal‘uhâ ka'annahû ru'ûsusy-syayâthîn

Mayangnya seperti kepala-kepala setan.

66

فَاِنَّهُمْ لَاٰكِلُوْنَ مِنْهَا فَمَالِـُٔوْنَ مِنْهَا الْبُطُوْنَۗ

fa innahum la'âkilûna min-hâ famâli'ûna min-hal buthûn

Sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian darinya (buah pohon itu) dan mereka memenuhi perutnya dengan buahnya (zaqum).

67

ثُمَّ اِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِّنْ حَمِيْمٍۚ

tsumma inna lahum ‘alaihâ lasyaubam min ḫamîm

(Setelah makan buah zaqum,) sesungguhnya bagi mereka minuman yang dicampur dengan air yang sangat panas.

68

ثُمَّ اِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَاِلَى الْجَحِيْمِ

tsumma inna marji‘ahum la'ilal-jaḫîm

Kemudian, tempat kembali mereka pasti ke (neraka) Jahim.

69

اِنَّهُمْ اَلْفَوْا اٰبَاۤءَهُمْ ضَاۤلِّيْنَۙ

innahum alfau âbâ'ahum dlâllîn

Sesungguhnya mereka mendapati nenek moyang mereka dalam keadaan sesat.

70

فَهُمْ عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ يُهْرَعُوْنَ

fa hum ‘alâ âtsârihim yuhra‘ûn

Mereka tergesa-gesa mengikuti jejak (nenek moyang) mereka.

71

وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ اَكْثَرُ الْاَوَّلِيْنَۙ

wa laqad dlalla qablahum aktsarul-awwalîn

Sungguh, sebelum mereka (kaum Quraisy), benar-benar telah sesat sebagian besar dari orang-orang yang dahulu.

72

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا فِيْهِمْ مُّنْذِرِيْنَ

wa laqad arsalnâ fîhim mundzirîn

Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus (rasul) pemberi peringatan di kalangan mereka.

73

فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِيْنَۙ

fandhur kaifa kâna ‘âqibatul-mundzarîn

Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu,

74

اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَࣖ

illâ ‘ibâdallâhil-mukhlashîn

kecuali hamba-hamba Allah yang terpilih (karena keikhlasannya).

75

وَلَقَدْ نَادٰىنَا نُوْحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيْبُوْنَۖ

wa laqad nâdânâ nûḫun fa lani‘mal-mujîbûn

Sungguh, Nuh benar-benar telah berdoa kepada Kami dan sungguh, Kamilah sebaik-baik yang memperkenankan doa.

76

وَنَجَّيْنٰهُ وَاَهْلَهٗ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيْمِۖ

wa najjainâhu wa ahlahû minal-karbil-‘adhîm

Kami telah menyelamatkan dia dan pengikutnya dari bencana yang besar.

77

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهٗ هُمُ الْبَاقِيْنَ

wa ja‘alnâ dzurriyyatahû humul-bâqîn

Kami menjadikan keturunannya orang-orang yang bertahan (di bumi).

78

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَۖ

wa taraknâ ‘alaihi fil-âkhirîn

Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,

79

سَلٰمٌ عَلٰى نُوْحٍ فِى الْعٰلَمِيْنَ

salâmun ‘alâ nûḫin fil-‘âlamîn

“Kesejahteraan (Kami limpahkan) atas Nuh di semesta alam.”

80

اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

innâ kadzâlika najzil-muḫsinîn

Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

81

اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ

innahû min ‘ibâdinal-mu'minîn

Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin.

82

ثُمَّ اَغْرَقْنَا الْاٰخَرِيْنَ

tsumma aghraqnal-âkharîn

Kemudian, Kami menenggelamkan yang lain.

83

وَاِنَّ مِنْ شِيْعَتِهٖ لَاِبْرٰهِيْمَۘ

wa inna min syî‘atihî la'ibrâhîm

Sesungguhnya Ibrahim termasuk golongannya (Nuh).

84

اِذْ جَاۤءَ رَبَّهٗ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۙ

idz jâ'a rabbahû biqalbin salîm

(Ingatlah) ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci,

85

اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَاذَا تَعْبُدُوْنَۚ

idz qâla li'abîhi wa qaumihî mâdzâ ta‘budûn

ketika dia berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Apa yang kamu sembah itu?

86

اَىِٕفْكًا اٰلِهَةً دُوْنَ اللّٰهِ تُرِيْدُوْنَۗ

a ifkan âliḫatan dûnallâhi turîdûn

Apakah kamu menghendaki kebohongan dengan sesembahan selain Allah?

87

فَمَا ظَنُّكُمْ بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

fa mâ dhannukum birabbil-‘âlamîn

Maka, bagaimana anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?”

88

فَنَظَرَ نَظْرَةً فِى النُّجُوْمِۙ

fa nadhara nadhratan fin-nujûm

Lalu, dia (Ibrahim) memandang sekilas ke arah bintang-bintang,

89

فَقَالَ اِنِّيْ سَقِيْمٌ

fa qâla innî saqîm

kemudian dia berkata, “Sesungguhnya aku sakit.”

90

فَتَوَلَّوْا عَنْهُ مُدْبِرِيْنَ

fa tawallau ‘an-hu mudbirîn

Mereka lalu berpaling darinya seraya meninggalkannya.

91

فَرَاغَ اِلٰٓى اٰلِهَتِهِمْ فَقَالَ اَلَا تَأْكُلُوْنَۚ

fa râgha ilâ âlihatihim fa qâla alâ ta'kulûn

Kemudian, dia langsung menuju ke berhala-berhala mereka (secara diam-diam), lalu berkata, “Mengapa kamu tidak makan?

92

مَا لَكُمْ لَا تَنْطِقُوْنَ

mâ lakum lâ tanthiqûn

Mengapa kamu tidak menjawab?”

93

فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا ۢ بِالْيَمِيْنِ

fa râgha ‘alaihim dlarbam bil-yamîn

Dia lalu menghadap ke (berhala-berhala) itu sambil memukul dengan tangan kanan(-nya).

94

فَاَقْبَلُوْٓا اِلَيْهِ يَزِفُّوْنَ

fa aqbalû ilaihi yaziffûn

Kemudian, mereka (kaumnya) datang bergegas kepadanya.

95

قَالَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَۙ

qâla a ta‘budûna mâ tan-ḫitûn

Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu?

96

وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ

wallâhu khalaqakum wa mâ ta‘malûn

Padahal Allahlah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.”

97

قَالُوا ابْنُوْا لَهٗ بُنْيَانًا فَاَلْقُوْهُ فِى الْجَحِيْمِ

qâlubnû lahû bun-yânan fa alqûhu fil-jaḫîm

Mereka berkata, “Buatlah bangunan (perapian) untuk (membakar)-nya, lalu lemparkan dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.”

98

فَاَرَادُوْا بِهٖ كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَسْفَلِيْنَ

fa arâdû bihî kaidan fa ja‘alnâhumul-asfalîn

Mereka bermaksud memperdayainya, (namun Allah menyelamatkannya), lalu Kami menjadikan mereka orang-orang yang hina.

99

وَقَالَ اِنِّيْ ذَاهِبٌ اِلٰى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ

wa qâla innî dzâhibun ilâ rabbî sayahdîn

Dia (Ibrahim) berkata, "Sesungguhnya aku akan pergi (menghadap) kepada Tuhanku. Dia akan memberiku petunjuk."

100

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

rabbi hab lî minash-shâliḫîn

(Ibrahim berdoa,) “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.”

101

فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ

fa basysyarnâhu bighulâmin ḫalîm

Maka, Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak (Ismail) yang sangat santun.

102

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

fa lammâ balagha ma‘ahus-sa‘ya qâla yâ bunayya innî arâ fil-manâmi annî adzbaḫuka fandhur mâdzâ tarâ, qâla yâ abatif‘al mâ tu'maru satajidunî in syâ'allâhu minash-shâbirîn

Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

103

فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ

fa lammâ aslamâ wa tallahû lil-jabîn

Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah),

104

وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُۙ

wa nâdainâhu ay yâ ibrâhîm

Kami memanggil dia, “Wahai Ibrahim,

105

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

qad shaddaqtar-ru'yâ, innâ kadzâlika najzil-muḫsinîn

sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

106

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ

inna hâdzâ lahuwal-balâ'ul mubîn

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

107

وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ

wa fadainâhu bidzib-ḫin ‘adhîm

Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.

108

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَۖ

wa taraknâ ‘alaihi fil-âkhirîn

Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,

109

سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ

salâmun ‘alâ ibrâhîm

“Salam sejahtera atas Ibrahim.”

110

كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

kadzâlika najzil-muḫsinîn

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

111

اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ

innahû min ‘ibâdinal-mu'minîn

Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin.

112

وَبَشَّرْنٰهُ بِاِسْحٰقَ نَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

wa basysyarnâhu bi'is-ḫâqa nabiyyam minash-shâliḫîn

Kami telah memberinya kabar gembira tentang (akan dilahirkannya) Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh.

113

وَبٰرَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلٰٓى اِسْحٰقَۗ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَّظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ مُبِيْنٌࣖ

wa bâraknâ ‘alaihi wa ‘alâ is-ḫâq, wa min dzurriyyatihimâ muḫsinuw wa dhâlimul linafsihî mubîn

Kami melimpahkan keberkahan kepadanya dan Ishaq. Sebagian keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.

114

وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلٰى مُوْسٰى وَهٰرُوْنَۚ

wa laqad manannâ ‘alâ mûsâ wa hârûn

Sungguh, Kami benar-benar telah melimpahkan nikmat kepada Musa dan Harun.

115

وَنَجَّيْنٰهُمَا وَقَوْمَهُمَا مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيْمِۚ

wa najjainâhumâ wa qaumahumâ minal-karbil-‘adhîm

Kami telah menyelamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar.

116

وَنَصَرْنٰهُمْ فَكَانُوْا هُمُ الْغٰلِبِيْنَۚ

wa nasharnâhum fa kânû humul-ghâlibîn

Kami telah menolong mereka sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.

117

وَاٰتَيْنٰهُمَا الْكِتٰبَ الْمُسْتَبِيْنَۚ

wa âtainâhumal-kitâbal-mustabîn

Kami telah menganugerahkan kepada keduanya Kitab yang sangat jelas (Taurat).

118

وَهَدَيْنٰهُمَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۚ

wa hadainâhumash-shirâthal-mustaqîm

Kami telah membimbing keduanya ke jalan yang lurus.

119

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِمَا فِى الْاٰخِرِيْنَۖ

wa taraknâ ‘alaihimâ fil-âkhirîn

Kami telah mengabadikan untuk keduanya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,

120

سَلٰمٌ عَلٰى مُوْسٰى وَهٰرُوْنَ

salâmun ‘alâ mûsâ wa hârûn

“Salam sejahtera atas Musa dan Harun.”

121

اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

innâ kadzâlika najzil-muḫsinîn

Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

122

اِنَّهُمَا مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ

innahumâ min ‘ibâdinal-mu'minîn

Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin.

123

وَاِنَّ اِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۗ

wa inna ilyâsa laminal-mursalîn

Sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk para rasul.

124

اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖٓ اَلَا تَتَّقُوْنَ

idz qâla liqaumihî alâ tattaqûn

(Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu tidak bertakwa?

125

اَتَدْعُوْنَ بَعْلًا وَّتَذَرُوْنَ اَحْسَنَ الْخٰلِقِيْنَۙ

a tad‘ûna ba‘law wa tadzarûna aḫsanal-khâliqîn

Apakah kamu terus menyeru Ba‘l dan meninggalkan sebaik-baik pencipta,

126

اللّٰهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ اٰبَاۤىِٕكُمُ الْاَوَّلِيْنَ

allâha rabbakum wa rabba âbâ'ikumul-awwalîn

Allah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yang terdahulu?”

127

فَكَذَّبُوْهُ فَاِنَّهُمْ لَمُحْضَرُوْنَۙ

fa kadzdzabûhu fa innahum lamuḫdlarûn

Mereka kemudian mendustakannya (Ilyas). Sesungguhnya mereka akan diseret (ke neraka),

128

اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ

illâ ‘ibâdallâhil-mukhlashîn

kecuali hamba-hamba Allah yang terpilih (karena keikhlasannya).

129

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَۙ

wa taraknâ ‘alaihi fil-âkhirîn

Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,

130

سَلٰمٌ عَلٰٓى اِلْ يَاسِيْنَ

salâmun ‘alâ ilyâsîn

“Salam sejahtera atas Ilyas dan kaumnya.”

131

اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

innâ kadzâlika najzil-muḫsinîn

Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

132

اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ

innahû min ‘ibâdinal-mu'minîn

Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin.

133

وَاِنَّ لُوْطًا لَّمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۗ

wa inna lûthal laminal-mursalîn

Sesungguhnya Lut benar-benar termasuk para rasul.

134

اِذْ نَجَّيْنٰهُ وَاَهْلَهٗٓ اَجْمَعِيْۙنَ

idz najjainâhu wa ahlahû ajma‘în

(Ingatlah) ketika Kami telah menyelamatkan dia dan pengikutnya semua,

135

اِلَّا عَجُوْزًا فِى الْغٰبِرِيْنَ

illâ ‘ajûzan fil-ghâbirîn

kecuali seorang perempuan tua (istrinya) yang termasuk golongan (orang-orang kafir) yang tertinggal.

136

ثُمَّ دَمَّرْنَا الْاٰخَرِيْنَ

tsumma dammarnal-âkharîn

Kemudian, Kami binasakan yang lain.

137

وَاِنَّكُمْ لَتَمُرُّوْنَ عَلَيْهِمْ مُّصْبِحِيْنَۙ

wa innakum latamurrûna ‘alaihim mushbiḫîn

Sesungguhnya kamu (penduduk Makkah) benar-benar akan melintasi (bekas-bekas kehancuran) mereka pada waktu pagi

138

وَبِالَّيْلِۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَࣖ

wa bil-laîl, a fa lâ ta‘qilûn

dan waktu malam. Mengapa kamu tidak mengerti?

139

وَاِنَّ يُوْنُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۗ

wa inna yûnusa laminal-mursalîn

Sesungguhnya Yunus benar-benar termasuk para rasul.

140

اِذْ اَبَقَ اِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِۙ

idz abaqa ilal-fulkil-masy-ḫûn

(Ingatlah) ketika dia berlari ke kapal yang penuh muatan,

141

فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِيْنَۚ

fa sâhama fa kâna minal-mud-ḫadlîn

kemudian dia ikut diundi, maka dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian).

142

فَالْتَقَمَهُ الْحُوْتُ وَهُوَ مُلِيْمٌ

faltaqamahul-ḫûtu wa huwa mulîm

Dia kemudian ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.

143

فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَۙ

falau lâ annahû kâna minal-musabbiḫîn

Seandainya dia bukan golongan orang yang banyak bertasbih kepada Allah,

144

لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَۚ

lalabitsa fî bathnihî ilâ yaumi yub‘atsûn

niscaya dia akan tetap tinggal di perutnya (ikan) sampai hari Kebangkitan.

145

فَنَبَذْنٰهُ بِالْعَرَاۤءِ وَهُوَ سَقِيْمٌۚ

fa nabadznâhu bil-‘arâ'i wa huwa saqîm

Kami kemudian melemparkannya (dari mulut ikan) ke daratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit.

146

وَاَنْۢبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِّنْ يَّقْطِيْنٍۚ

wa ambatnâ ‘alaihi syajaratam miy yaqthîn

Kami kemudian menumbuhkan tanaman sejenis labu untuknya.

147

وَاَرْسَلْنٰهُ اِلٰى مِائَةِ اَلْفٍ اَوْ يَزِيْدُوْنَۚ

wa arsalnâhu ilâ mi'ati alfin au yazîdûn

Kami mengutusnya kepada seratus ribu (orang) atau lebih,

148

فَاٰمَنُوْا فَمَتَّعْنٰهُمْ اِلٰى حِيْنٍ

fa âmanû fa matta‘nâhum ilâ ḫîn

lalu mereka beriman. Maka, Kami menganugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu tertentu.

149

فَاسْتَفْتِهِمْ اَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَلَهُمُ الْبَنُوْنَۚ

fastaftihim a lirabbikal-banâtu wa lahumul-banûn

(Wahai Nabi Muhammad), tanyalah mereka (orang-orang kafir Makkah), “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan, sedangkan untuk mereka anak-anak laki-laki

150

اَمْ خَلَقْنَا الْمَلٰۤىِٕكَةَ اِنَاثًا وَّهُمْ شٰهِدُوْنَ

am khalaqnal-malâ'ikata inâtsaw wa hum syâhidûn

atau Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan, sedangkan mereka menyaksikan(-nya)?”

151

اَلَآ اِنَّهُمْ مِّنْ اِفْكِهِمْ لَيَقُوْلُوْنَۙ

alâ innahum min ifkihim layaqûlûn

Ingatlah, sesungguhnya mereka benar-benar mengatakan dengan kebohongan mereka,

152

وَلَدَ اللّٰهُۙ وَاِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَۙ

waladallâhu wa innahum lakâdzibûn

“Allah mempunyai anak.” Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.

153

اَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِيْنَۗ

ashthafal-banâti ‘alal-banîn

Apakah Dia (Allah) lebih memilih anak-anak perempuan daripada anak-anak laki-laki?

154

مَا لَكُمْۗ كَيْفَ تَحْكُمُوْنَ

mâ lakum, kaifa taḫkumûn

Apa yang telah terjadi pada kamu? Bagaimana kamu menetapkan(-nya)?

155

اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَۚ

a fa lâ tadzakkarûn

Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

156

اَمْ لَكُمْ سُلْطٰنٌ مُّبِيْنٌۙ

am lakum sulthânum mubîn

Ataukah kamu mempunyai bukti yang jelas?

157

فَأْتُوْا بِكِتٰبِكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

fa'tû bikitâbikum ing kuntum shâdiqîn

(Kalau begitu,) bawalah kitabmu jika kamu orang-orang yang benar.

158

وَجَعَلُوْا بَيْنَهٗ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَبًاۗ وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ اِنَّهُمْ لَمُحْضَرُوْنَۙ

wa ja‘alû bainahû wa bainal-jinnati nasabâ, wa laqad ‘alimatil-jinnatu innahum lamuḫdlarûn

Mereka menjadikan (hubungan) nasab antara Dia dan jin. Sungguh, jin benar-benar telah mengetahui bahwa mereka (kaum musyrik) pasti akan diseret (ke neraka),

159

سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يَصِفُوْنَۙ

sub-ḫanallâhi ‘ammâ yashifûn

Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan,

160

اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ

illâ ‘ibâdallâhil-mukhlashîn

kecuali hamba-hamba Allah yang terpilih (karena keikhlasannya).

161

فَاِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُوْنَۙ

fa innakum wa mâ ta‘budûn

Maka, sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah itu

162

مَآ اَنْتُمْ عَلَيْهِ بِفٰتِنِيْنَۙ

mâ antum ‘alaihi bifâtinîn

tidak akan dapat menyesatkan (seseorang) terhadap Allah,

163

اِلَّا مَنْ هُوَ صَالِ الْجَحِيْمِ

illâ man huwa shâlil-jaḫîm

kecuali orang yang akan masuk ke (neraka) Jahim.

164

وَمَا مِنَّآ اِلَّا لَهٗ مَقَامٌ مَّعْلُوْمٌۙ

wa mâ minnâ illâ lahû maqâmum ma‘lûm

(Malaikat berkata), “Tidak satu pun di antara kami, kecuali masing-masing mempunyai kedudukan tertentu.

165

وَاِنَّا لَنَحْنُ الصَّۤافُّوْنَۖ

wa innâ lanaḫnush-shâffûn

Sesungguhnya kamilah yang selalu teratur dalam barisan (dalam melaksanakan perintah Allah).

166

وَاِنَّا لَنَحْنُ الْمُسَبِّحُوْنَ

wa innâ lanaḫnul-musabbiḫûn

Sesungguhnya kamilah yang benar-benar terus bertasbih (kepada Allah).”

167

وَاِنْ كَانُوْا لَيَقُوْلُوْنَۙ

wa ing kânû layaqûlûn

Sesungguhnya mereka (orang kafir Makkah) benar-benar berkata,

168

لَوْ اَنَّ عِنْدَنَا ذِكْرًا مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ

lau anna ‘indanâ dzikram minal-awwalîn

“Seandainya di sisi kami ada sebuah kitab dari (kitab-kitab yang diturunkan) kepada orang-orang terdahulu,

169

لَكُنَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ

lakunnâ ‘ibâdallâhil-mukhlashîn

niscaya kami akan menjadi hamba-hamba Allah yang terpilih.

170

فَكَفَرُوْا بِهٖۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ

fa kafarû bih, fa saufa ya‘lamûn

Akan tetapi, ternyata mereka mengingkarinya (Al-Qur’an). Maka, kelak mereka akan mengetahui (akibat keingkarannya itu).

171

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِيْنَۖ

wa laqad sabaqat kalimatunâ li‘ibâdinal-mursalîn

Sungguh, janji Kami benar-benar telah tetap bagi hamba-hamba Kami yang menjadi rasul.

172

اِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُوْرُوْنَۖ

innahum lahumul-manshûrûn

Sesungguhnya merekalah yang pasti akan mendapat pertolongan,

173

وَاِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغٰلِبُوْنَ

wa inna jundanâ lahumul-ghâlibûn

dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang.

174

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتّٰى حِيْنٍۙ

fa tawalla ‘an-hum ḫattâ ḫîn

Maka, berpalinglah engkau (Nabi Muhammad) dari mereka sampai waktu tertentu!

175

وَّاَبْصِرْهُمْۗ فَسَوْفَ يُبْصِرُوْنَ

wa abshir-hum, fa saufa yubshirûn

Lihatlah mereka! Maka, kelak mereka akan melihat (azab itu).

176

اَفَبِعَذَابِنَا يَسْتَعْجِلُوْنَ

a fa bi‘adzâbinâ yasta‘jilûn

Maka, apakah mereka meminta agar azab Kami disegerakan?

177

فَاِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمْ فَسَاۤءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِيْنَ

fa idzâ nazala bisâḫatihim fa sâ'a shabâḫul-mundzarîn

Apabila turun (siksaan itu) di halaman mereka, sangat buruklah pagi hari bagi orang-orang yang diperingatkan itu.

178

وَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتّٰى حِيْنٍۙ

wa tawalla ‘an-hum ḫattâ ḫîn

Berpalinglah engkau (Nabi Muhammad) dari mereka sampai waktu tertentu.

179

وَّاَبْصِرْۗ فَسَوْفَ يُبْصِرُوْنَ

wa abshir, fa saufa yubshirûn

Lihatlah (mereka)! Maka, kelak mereka akan melihat (azab itu).

180

سُبْحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَۚ

sub-ḫâna rabbika rabbil-‘izzati ‘ammâ yashifûn

Mahasuci Tuhanmu, Tuhan pemilik kemuliaan dari apa yang mereka sifatkan.

181

وَسَلٰمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَۚ

wa salâmun ‘alal-mursalîn

Selamat sejahtera bagi para rasul.

182

وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَࣖ

wal-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Anda baru saja membaca Surat As-Saffat.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.

Donasi Sekarang

Pertanyaan Umum tentang Surat As-Saffat

Apa isi kandungan Surat As-Saffat?

As-Saffat diawali dengan sumpah demi malaikat yang berbaris di hadapan Allah, kemudian mengisahkan ujian terbesar Nabi Ibrahim saat diperintahkan menyembelih putranya Ismail yang diganti dengan sembelihan agung. Surat ini juga mengisahkan Nabi Nuh, Musa, Harun, Ilyas, Luth, dan Yunus dalam perut ikan. Surat As-Saffat terdiri dari 182 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).

Berapa jumlah ayat Surat As-Saffat?

Surat As-Saffat terdiri dari 182 ayat dan terdapat pada juz 23 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 36 menit (disarankan dibaca bertahap).

Mengapa surat ini dinamakan As-Saffat (Barisan-Barisan)?

Nama "As-Saffat" (الصافات) berarti "Barisan-Barisan" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-37 dalam urutan mushaf Al-Quran.

Apakah Surat As-Saffat Makkiyah atau Madaniyah?

Surat As-Saffat termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.

Kapan waktu terbaik membaca Surat As-Saffat?

Surat As-Saffat dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.

Apa keutamaan membaca Surat As-Saffat?

Surat ini mengandung kisah pengorbanan agung Nabi Ibrahim yang menjadi dasar syariat kurban (Idul Adha) dalam Islam. Mengandung pelajaran tentang ketaatan total kepada perintah Allah, sebagaimana dicontohkan Ibrahim dan Ismail. Surat ini menegaskan bahwa malaikat adalah hamba Allah yang mulia, bukan anak-anak Allah sebagaimana klaim kaum musyrikin. Menampilkan kisah Nabi Yunus sebagai teladan bertaubat dan bertasbih di saat kesulitan.

Apakah membaca Surat As-Saffat di LiteQuran benar-benar gratis dan tanpa iklan?

Ya, LiteQuran menyediakan Surat As-Saffat lengkap dengan teks Arab, Latin, terjemahan, tafsir, dan audio murottal secara 100% gratis dan tanpa iklan sama sekali. Halaman dimuat sangat cepat karena tidak ada script iklan yang memperlambat. Anda bisa fokus membaca Al-Quran tanpa gangguan pop-up atau banner iklan.