وَالصّٰۤفّٰتِ صَفًّاۙ
wash-shâffâti shaffâ
Demi (rombongan malaikat) yang berbaris bersaf-saf, (untuk beribadah kepada Allah),
Baca Surat As-Saffat (Barisan-Barisan — الصافات) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 182 ayat Makkiyah (Juz 23) — surat ke-37 dalam Al-Quran.
As-Saffat diawali dengan sumpah demi malaikat yang berbaris di hadapan Allah, kemudian mengisahkan ujian terbesar Nabi Ibrahim saat diperintahkan menyembelih putranya Ismail yang diganti dengan sembelihan agung. Surat ini juga mengisahkan Nabi Nuh, Musa, Harun, Ilyas, Luth, dan Yunus dalam perut ikan..
Surat As-Saffat adalah surat Makkiyah yang turun di Mekkah pada periode pertengahan dakwah. Surat ini turun dalam konteks meluruskan akidah kaum Quraisy yang menyembah berhala, menganggap malaikat sebagai anak perempuan Allah, dan mengingkari hari kebangkitan. Allah menurunkan surat ini untuk menegaskan keesaan-Nya melalui kisah-kisah para nabi terdahulu dan perjuangan mereka melawan kemusyrikan.
Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ath-Thabari, Shahih Bukhari, Shahih Muslim
وَالصّٰۤفّٰتِ صَفًّاۙ
wash-shâffâti shaffâ
Demi (rombongan malaikat) yang berbaris bersaf-saf, (untuk beribadah kepada Allah),
فَالزّٰجِرٰتِ زَجْرًاۙ
faz-zâjirâti zajrâ
demi (rombongan malaikat) yang mencegah (segala sesuatu) dengan sungguh-sungguh,
فَالتّٰلِيٰتِ ذِكْرًاۙ
fat-tâliyâti dzikrâ
demi (rombongan malaikat) yang membacakan peringatan,
اِنَّ اِلٰهَكُمْ لَوَاحِدٌۗ
inna ilâhakum lawâḫid
sungguh, Tuhanmu benar-benar Esa.
رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِۗ
rabbus-samâwâti wal-ardli wa mâ bainahumâ wa rabbul-masyâriq
Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbitnya matahari.
اِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِزِيْنَةِ ࣙالْكَوَاكِبِۙ
innâ zayyannas-samâ'ad-dun-yâ bizînatinil-kawâkib
Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia (yang terdekat) dengan hiasan (berupa) bintang-bintang.
وَحِفْظًا مِّنْ كُلِّ شَيْطٰنٍ مَّارِدٍۚ
wa ḫifdham ming kulli syaithânim mârid
(Kami telah menjaganya dengan) penjagaan yang sempurna dari setiap setan yang durhaka.
لَا يَسَّمَّعُوْنَ اِلَى الْمَلَاِ الْاَعْلٰى وَيُقْذَفُوْنَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍۖ
lâ yassamma‘ûna ilal-mala'il-a‘lâ wa yuqdzafûna ming kulli jânib
Mereka (setan-setan) tidak dapat mendengar (percakapan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru
دُحُوْرًا وَّلَهُمْ عَذَابٌ وَّاصِبٌ
duḫûraw wa lahum ‘adzâbuw wâshib
untuk mengusir mereka. Bagi mereka azab yang kekal (di akhirat),
اِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَاَتْبَعَهٗ شِهَابٌ ثَاقِبٌ
illâ man khathifal-khathfata fa atba‘ahû syihâbun tsâqib
kecuali (setan) yang menyambar pembicaraan dengan sekali sambar; maka ia dikejar oleh bintang yang menyala.
فَاسْتَفْتِهِمْ اَهُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمْ مَّنْ خَلَقْنَاۗ اِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّنْ طِيْنٍ لَّازِبٍ
fastaftihim a hum asyaddu khalqan am man khalaqnâ, innâ khalaqnâhum min thînil lâzib
Maka, tanyakanlah kepada mereka (musyrik Makkah), “Apakah mereka (manusia) lebih sulit penciptaannya ataukah selainnya (langit, bumi, dan lainnya) yang telah Kami ciptakan?” Sesungguhnya Kami telah menciptakan (bapak) mereka (Adam) dari tanah liat.
بَلْ عَجِبْتَ وَيَسْخَرُوْنَۖ
bal ‘ajibta wa yaskharûn
Bahkan, engkau (Nabi Muhammad) menjadi heran (terhadap keingkaran mereka) dan mereka selalu menghinamu.
وَاِذَا ذُكِّرُوْا لَا يَذْكُرُوْنَۖ
wa idzâ dzukkirû lâ yadzkurûn
Apabila diberi peringatan, mereka tidak mengingat (mengindahkannya).
وَاِذَا رَاَوْا اٰيَةً يَّسْتَسْخِرُوْنَۖ
wa idzâ ra'au âyatay yastaskhirûn
Apabila melihat suatu tanda (kebesaran Allah atau kebenaran Nabi Muhammad), mereka sangat menghina.
وَقَالُوْٓا اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌۚ
wa qâlû in hâdzâ illâ siḫrum mubîn
Mereka berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.
ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَّعِظَامًا ءَاِنَّا لَمَبْعُوْثُوْنَۙ
a idzâ mitnâ wa kunnâ turâbaw wa ‘idhâman a innâ lamab‘ûtsûn
Apabila kami telah mati, (lalu) menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan?
اَوَاٰبَاۤؤُنَا الْاَوَّلُوْنَۗ
a wa âbâ'unal-awwalûn
Apakah nenek moyang kami yang terdahulu (akan dibangkitkan pula)?”
قُلْ نَعَمْ وَاَنْتُمْ دٰخِرُوْنَۚ
qul na‘am wa antum dâkhirûn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Ya (kamu akan dibangkitkan) dan kamu akan terhina.”
فَاِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَّاحِدَةٌ فَاِذَا هُمْ يَنْظُرُوْنَ
fa innamâ hiya zajratuw wâḫidatun fa idzâ hum yandhurûn
Sesungguhnya kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan (tiupan sangkakala kedua). Maka, seketika itu mereka (bangun dari kematiannya) melihat (apa yang terjadi).
وَقَالُوْا يٰوَيْلَنَا هٰذَا يَوْمُ الدِّيْنِ
wa qâlû yâ wailanâ hâdzâ yaumud-dîn
Mereka berkata, “Alangkah celaka kami! (Kiranya) inilah hari Pembalasan itu.”
هٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَࣖ
hâdzâ yaumul-fashlilladzî kuntum bihî tukadzdzibûn
Inilah hari keputusan yang dahulu (selalu) kamu dustakan.
اُحْشُرُوا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا وَاَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوْا يَعْبُدُوْنَۙ
uḫsyurulladzîna dhalamû wa azwâjahum wa mâ kânû ya‘budûn
(Lalu, diperintahkan kepada para malaikat,) “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah
مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَاهْدُوْهُمْ اِلٰى صِرَاطِ الْجَحِيْمِ
min dûnillâhi fahdûhum ilâ shirâthil-jaḫîm
selain Allah. Lalu, tunjukkanlah kepada mereka jalan ke (neraka) Jahim.
وَقِفُوْهُمْ اِنَّهُمْ مَّسْـُٔوْلُوْنَۙ
waqifûhum innahum mas'ûlûn
Tahanlah mereka (di tempat perhentian). Sesungguhnya mereka akan ditanya (tentang keyakinan dan perilaku mereka).”
مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُوْنَ
mâ lakum lâ tanâsharûn
(Mereka lalu dikecam,) “Mengapa kamu tidak tolong-menolong (sebagaimana kamu di dunia)?”
بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُوْنَ
bal humul-yauma mustaslimûn
Bahkan, mereka pada hari itu menyerah (kepada putusan Allah).
وَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ
wa aqbala ba‘dluhum ‘alâ ba‘dliy yatasâ'alûn
Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertanya (berbantah-bantahan).
قَالُوْٓا اِنَّكُمْ كُنْتُمْ تَأْتُوْنَنَا عَنِ الْيَمِيْنِ
qâlû innakum kuntum ta'tûnanâ ‘anil-yamîn
(Pengikut) mereka berkata (kepada pemimpinnya), “Sesungguhnya kamulah yang dahulu selalu mendatangi kami dari arah kanan (untuk menghalangi kami dari kebajikan).”
قَالُوْا بَلْ لَّمْ تَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَۚ
qâlû bal lam takûnû mu'minîn
(Pemimpin) mereka menjawab, “(Tidak,) bahkan kamulah yang tidak (mau) menjadi orang mukmin.
وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍۚ بَلْ كُنْتُمْ قَوْمًا طٰغِيْنَ
wa mâ kâna lanâ ‘alaikum min sulthân, bal kuntum qauman thâghîn
(Sebenarnya,) kami sedikit pun tidak berkuasa terhadapmu (untuk menghalang-halangimu), bahkan kamulah kaum yang melampaui batas.
فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَآۖ اِنَّا لَذَاۤىِٕقُوْنَ
fa ḫaqqa ‘alainâ qaulu rabbinâ innâ ladzâ'iqûn
Maka, putusan (azab) Tuhan (akan) benar-benar menimpa kita. Pasti kita akan merasakan (azab itu).
فَاَغْوَيْنٰكُمْ اِنَّا كُنَّا غٰوِيْنَ
fa aghwainâkum innâ kunnâ ghâwîn
Kami (mengakui) telah menyesatkan kamu. Sesungguhnya kami sendiri orang-orang yang sesat.”
فَاِنَّهُمْ يَوْمَىِٕذٍ فِى الْعَذَابِ مُشْتَرِكُوْنَ
fa innahum yauma'idzin fil-‘adzâbi musytarikûn
Sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama merasakan azab.
اِنَّا كَذٰلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِيْنَ
innâ kadzâlika naf‘alu bil-mujrimîn
Sesungguhnya demikianlah Kami memperlakukan orang-orang yang berbuat dosa.
اِنَّهُمْ كَانُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ يَسْتَكْبِرُوْنَۙ
innahum kânû idzâ qîla lahum lâ ilâha illallâhu yastakbirûn
Sesungguhnya dahulu apabila dikatakan kepada mereka, “Lā ilāha illallāh” (Tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah), mereka menyombongkan diri.
وَيَقُوْلُوْنَ اَىِٕنَّا لَتَارِكُوْٓا اٰلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُوْنٍۗ
wa yaqûlûna a innâ latârikû âlihatinâ lisyâ‘irim majnûn
Mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?”
بَلْ جَاۤءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِيْنَ
bal jâ'a bil-ḫaqqi wa shaddaqal-mursalîn
Padahal dia (Nabi Muhammad) datang dengan membawa kebenaran dan membenarkan para rasul (sebelumnya).
اِنَّكُمْ لَذَاۤىِٕقُوا الْعَذَابِ الْاَلِيْمِۚ
innakum ladzâ'iqul-‘adzâbil-alîm
Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih.
وَمَا تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۙ
wa mâ tujzauna illâ mâ kuntum ta‘malûn
Kamu tidak diberi balasan, kecuali terhadap apa yang telah kamu kerjakan.
اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ
illâ ‘ibâdallâhil-mukhlashîn
Akan tetapi, hamba-hamba Allah yang terpilih (karena keikhlasannya),
اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَّعْلُوْمٌۙ
ulâ'ika lahum rizqum ma‘lûm
mereka itu memperoleh rezeki yang sudah ditentukan,
فَوَاكِهُۚ وَهُمْ مُّكْرَمُوْنَۙ
fawâkih, wa hum mukramûn
(yaitu) buah-buahan. Mereka adalah orang-orang yang dimuliakan
فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِۙ
fî jannâtin na‘îm
di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.
عَلٰى سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِيْنَ
‘alâ sururim mutaqâbilîn
(Mereka duduk) berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.
يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِكَأْسٍ مِّنْ مَّعِيْنٍۢۙ
yuthâfu ‘alaihim bika'sim mim ma‘în
Kepada mereka diedarkan gelas (yang berisi minuman) dari mata air (surga).
بَيْضَاۤءَ لَذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيْنَۚ
baidlâ'a ladzdzatil lisy-syâribîn
(Warnanya) putih bersih dan lezat rasanya bagi orang-orang yang meminum(-nya).
لَا فِيْهَا غَوْلٌ وَّلَا هُمْ عَنْهَا يُنْزَفُوْنَ
lâ fîhâ ghauluw wa lâ hum ‘an-hâ yunzafûn
Tidak ada di dalamnya (unsur) yang membahayakan dan mereka tidak mabuk karenanya.
وَعِنْدَهُمْ قٰصِرٰتُ الطَّرْفِ عِيْنٌۙ
wa ‘indahum qâshirâtuth-tharfi ‘în
Di sisi mereka ada (bidadari-bidadari) yang bermata indah dan membatasi pandangannya (dari selain pasangan mereka).
كَاَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَّكْنُوْنٌ
ka'annahunna baidlum maknûn
(Warna kulit) mereka seperti (warna) telur yang tersimpan dengan baik.
فَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ
fa aqbala ba‘dluhum ‘alâ ba‘dliy yatasâ'alûn
Mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap.
قَالَ قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ اِنِّيْ كَانَ لِيْ قَرِيْنٌۙ
qâla qâ'ilum min-hum innî kâna lî qarîn
Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) pernah mempunyai seorang teman
يَّقُوْلُ اَءِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِيْنَ
yaqûlu a innaka laminal-mushaddiqîn
yang berkata, ‘Apakah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang membenarkan (hari Kebangkitan)?
ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَّعِظَامًا ءَاِنَّا لَمَدِيْنُوْنَ
a idzâ mitnâ wa kunnâ turâbaw wa ‘idhâman a innâ lamadînûn
Apabila kami telah mati (lalu) menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar (akan dibangkitkan untuk) diberi balasan?’”
قَالَ هَلْ اَنْتُمْ مُّطَّلِعُوْنَ
qâla hal antum muththali‘ûn
Dia berkata, “Maukah kamu menengok (temanku itu)?”
فَاطَّلَعَ فَرَاٰهُ فِيْ سَوَاۤءِ الْجَحِيْمِ
faththala‘a fa ra'âhu fî sawâ'il-jaḫîm
Maka, dia menengoknya. Lalu, dia melihat (teman)-nya itu di tengah-tengah (neraka) Jahim.
قَالَ تَاللّٰهِ اِنْ كِدْتَّ لَتُرْدِيْنِۙ
qâla tallâhi ing kitta laturdîn
Dia berkata, “Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku.
وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّيْ لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِيْنَ
walau lâ ni‘matu rabbî lakuntu minal-muḫdlarîn
Sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).
اَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِيْنَۙ
a fa mâ naḫnu bimayyitîn
Apakah kita tidak akan mati,
اِلَّا مَوْتَتَنَا الْاُوْلٰى وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِيْنَ
illâ mautatanal-ûlâ wa mâ naḫnu bimu‘adzdzabîn
kecuali kematian kita yang pertama saja (di dunia) dan kita tidak akan diazab (di akhirat ini)?”
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
inna hâdzâ lahuwal-fauzul-‘adhîm
Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang agung.
لِمِثْلِ هٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعٰمِلُوْنَ
limitsli hâdzâ falya‘malil-‘âmilûn
Untuk (kemenangan) seperti ini, hendaklah beramal (di dunia) orang-orang yang mampu beramal.
اَذٰلِكَ خَيْرٌ نُّزُلًا اَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّوْمِ
a dzâlika khairun nuzulan am syajaratuz-zaqqûm
Apakah (makanan surga) itu hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqum?
اِنَّا جَعَلْنٰهَا فِتْنَةً لِّلظّٰلِمِيْنَ
innâ ja‘alnâhâ fitnatal lidh-dhâlimîn
Sesungguhnya Kami menjadikannya (pohon zaqum itu) sebagai azab bagi orang-orang zalim.
اِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِيْٓ اَصْلِ الْجَحِيْمِۙ
innahâ syajaratun takhruju fî ashlil-jaḫîm
Sesungguhnya itu adalah pohon yang keluar dari dasar (neraka) Jahim.
طَلْعُهَا كَاَنَّهٗ رُءُوْسُ الشَّيٰطِيْنِ
thal‘uhâ ka'annahû ru'ûsusy-syayâthîn
Mayangnya seperti kepala-kepala setan.
فَاِنَّهُمْ لَاٰكِلُوْنَ مِنْهَا فَمَالِـُٔوْنَ مِنْهَا الْبُطُوْنَۗ
fa innahum la'âkilûna min-hâ famâli'ûna min-hal buthûn
Sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian darinya (buah pohon itu) dan mereka memenuhi perutnya dengan buahnya (zaqum).
ثُمَّ اِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِّنْ حَمِيْمٍۚ
tsumma inna lahum ‘alaihâ lasyaubam min ḫamîm
(Setelah makan buah zaqum,) sesungguhnya bagi mereka minuman yang dicampur dengan air yang sangat panas.
ثُمَّ اِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَاِلَى الْجَحِيْمِ
tsumma inna marji‘ahum la'ilal-jaḫîm
Kemudian, tempat kembali mereka pasti ke (neraka) Jahim.
اِنَّهُمْ اَلْفَوْا اٰبَاۤءَهُمْ ضَاۤلِّيْنَۙ
innahum alfau âbâ'ahum dlâllîn
Sesungguhnya mereka mendapati nenek moyang mereka dalam keadaan sesat.
فَهُمْ عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ يُهْرَعُوْنَ
fa hum ‘alâ âtsârihim yuhra‘ûn
Mereka tergesa-gesa mengikuti jejak (nenek moyang) mereka.
وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ اَكْثَرُ الْاَوَّلِيْنَۙ
wa laqad dlalla qablahum aktsarul-awwalîn
Sungguh, sebelum mereka (kaum Quraisy), benar-benar telah sesat sebagian besar dari orang-orang yang dahulu.
وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا فِيْهِمْ مُّنْذِرِيْنَ
wa laqad arsalnâ fîhim mundzirîn
Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus (rasul) pemberi peringatan di kalangan mereka.
فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِيْنَۙ
fandhur kaifa kâna ‘âqibatul-mundzarîn
Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu,
اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَࣖ
illâ ‘ibâdallâhil-mukhlashîn
kecuali hamba-hamba Allah yang terpilih (karena keikhlasannya).
وَلَقَدْ نَادٰىنَا نُوْحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيْبُوْنَۖ
wa laqad nâdânâ nûḫun fa lani‘mal-mujîbûn
Sungguh, Nuh benar-benar telah berdoa kepada Kami dan sungguh, Kamilah sebaik-baik yang memperkenankan doa.
وَنَجَّيْنٰهُ وَاَهْلَهٗ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيْمِۖ
wa najjainâhu wa ahlahû minal-karbil-‘adhîm
Kami telah menyelamatkan dia dan pengikutnya dari bencana yang besar.
وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهٗ هُمُ الْبَاقِيْنَ
wa ja‘alnâ dzurriyyatahû humul-bâqîn
Kami menjadikan keturunannya orang-orang yang bertahan (di bumi).
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَۖ
wa taraknâ ‘alaihi fil-âkhirîn
Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,
سَلٰمٌ عَلٰى نُوْحٍ فِى الْعٰلَمِيْنَ
salâmun ‘alâ nûḫin fil-‘âlamîn
“Kesejahteraan (Kami limpahkan) atas Nuh di semesta alam.”
اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ
innâ kadzâlika najzil-muḫsinîn
Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.
اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ
innahû min ‘ibâdinal-mu'minîn
Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin.
ثُمَّ اَغْرَقْنَا الْاٰخَرِيْنَ
tsumma aghraqnal-âkharîn
Kemudian, Kami menenggelamkan yang lain.
وَاِنَّ مِنْ شِيْعَتِهٖ لَاِبْرٰهِيْمَۘ
wa inna min syî‘atihî la'ibrâhîm
Sesungguhnya Ibrahim termasuk golongannya (Nuh).
اِذْ جَاۤءَ رَبَّهٗ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۙ
idz jâ'a rabbahû biqalbin salîm
(Ingatlah) ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci,
اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَاذَا تَعْبُدُوْنَۚ
idz qâla li'abîhi wa qaumihî mâdzâ ta‘budûn
ketika dia berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Apa yang kamu sembah itu?
اَىِٕفْكًا اٰلِهَةً دُوْنَ اللّٰهِ تُرِيْدُوْنَۗ
a ifkan âliḫatan dûnallâhi turîdûn
Apakah kamu menghendaki kebohongan dengan sesembahan selain Allah?
فَمَا ظَنُّكُمْ بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
fa mâ dhannukum birabbil-‘âlamîn
Maka, bagaimana anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?”
فَنَظَرَ نَظْرَةً فِى النُّجُوْمِۙ
fa nadhara nadhratan fin-nujûm
Lalu, dia (Ibrahim) memandang sekilas ke arah bintang-bintang,
فَقَالَ اِنِّيْ سَقِيْمٌ
fa qâla innî saqîm
kemudian dia berkata, “Sesungguhnya aku sakit.”
فَتَوَلَّوْا عَنْهُ مُدْبِرِيْنَ
fa tawallau ‘an-hu mudbirîn
Mereka lalu berpaling darinya seraya meninggalkannya.
فَرَاغَ اِلٰٓى اٰلِهَتِهِمْ فَقَالَ اَلَا تَأْكُلُوْنَۚ
fa râgha ilâ âlihatihim fa qâla alâ ta'kulûn
Kemudian, dia langsung menuju ke berhala-berhala mereka (secara diam-diam), lalu berkata, “Mengapa kamu tidak makan?
مَا لَكُمْ لَا تَنْطِقُوْنَ
mâ lakum lâ tanthiqûn
Mengapa kamu tidak menjawab?”
فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا ۢ بِالْيَمِيْنِ
fa râgha ‘alaihim dlarbam bil-yamîn
Dia lalu menghadap ke (berhala-berhala) itu sambil memukul dengan tangan kanan(-nya).
فَاَقْبَلُوْٓا اِلَيْهِ يَزِفُّوْنَ
fa aqbalû ilaihi yaziffûn
Kemudian, mereka (kaumnya) datang bergegas kepadanya.
قَالَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَۙ
qâla a ta‘budûna mâ tan-ḫitûn
Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu?
وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ
wallâhu khalaqakum wa mâ ta‘malûn
Padahal Allahlah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.”
قَالُوا ابْنُوْا لَهٗ بُنْيَانًا فَاَلْقُوْهُ فِى الْجَحِيْمِ
qâlubnû lahû bun-yânan fa alqûhu fil-jaḫîm
Mereka berkata, “Buatlah bangunan (perapian) untuk (membakar)-nya, lalu lemparkan dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.”
فَاَرَادُوْا بِهٖ كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَسْفَلِيْنَ
fa arâdû bihî kaidan fa ja‘alnâhumul-asfalîn
Mereka bermaksud memperdayainya, (namun Allah menyelamatkannya), lalu Kami menjadikan mereka orang-orang yang hina.
وَقَالَ اِنِّيْ ذَاهِبٌ اِلٰى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ
wa qâla innî dzâhibun ilâ rabbî sayahdîn
Dia (Ibrahim) berkata, "Sesungguhnya aku akan pergi (menghadap) kepada Tuhanku. Dia akan memberiku petunjuk."
رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
rabbi hab lî minash-shâliḫîn
(Ibrahim berdoa,) “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.”
فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ
fa basysyarnâhu bighulâmin ḫalîm
Maka, Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak (Ismail) yang sangat santun.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
fa lammâ balagha ma‘ahus-sa‘ya qâla yâ bunayya innî arâ fil-manâmi annî adzbaḫuka fandhur mâdzâ tarâ, qâla yâ abatif‘al mâ tu'maru satajidunî in syâ'allâhu minash-shâbirîn
Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ
fa lammâ aslamâ wa tallahû lil-jabîn
Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah),
وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُۙ
wa nâdainâhu ay yâ ibrâhîm
Kami memanggil dia, “Wahai Ibrahim,
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ
qad shaddaqtar-ru'yâ, innâ kadzâlika najzil-muḫsinîn
sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ
inna hâdzâ lahuwal-balâ'ul mubîn
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ
wa fadainâhu bidzib-ḫin ‘adhîm
Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَۖ
wa taraknâ ‘alaihi fil-âkhirîn
Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,
سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ
salâmun ‘alâ ibrâhîm
“Salam sejahtera atas Ibrahim.”
كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ
kadzâlika najzil-muḫsinîn
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.
اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ
innahû min ‘ibâdinal-mu'minîn
Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin.
وَبَشَّرْنٰهُ بِاِسْحٰقَ نَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ
wa basysyarnâhu bi'is-ḫâqa nabiyyam minash-shâliḫîn
Kami telah memberinya kabar gembira tentang (akan dilahirkannya) Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh.
وَبٰرَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلٰٓى اِسْحٰقَۗ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَّظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ مُبِيْنٌࣖ
wa bâraknâ ‘alaihi wa ‘alâ is-ḫâq, wa min dzurriyyatihimâ muḫsinuw wa dhâlimul linafsihî mubîn
Kami melimpahkan keberkahan kepadanya dan Ishaq. Sebagian keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.
وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلٰى مُوْسٰى وَهٰرُوْنَۚ
wa laqad manannâ ‘alâ mûsâ wa hârûn
Sungguh, Kami benar-benar telah melimpahkan nikmat kepada Musa dan Harun.
وَنَجَّيْنٰهُمَا وَقَوْمَهُمَا مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيْمِۚ
wa najjainâhumâ wa qaumahumâ minal-karbil-‘adhîm
Kami telah menyelamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar.
وَنَصَرْنٰهُمْ فَكَانُوْا هُمُ الْغٰلِبِيْنَۚ
wa nasharnâhum fa kânû humul-ghâlibîn
Kami telah menolong mereka sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.
وَاٰتَيْنٰهُمَا الْكِتٰبَ الْمُسْتَبِيْنَۚ
wa âtainâhumal-kitâbal-mustabîn
Kami telah menganugerahkan kepada keduanya Kitab yang sangat jelas (Taurat).
وَهَدَيْنٰهُمَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۚ
wa hadainâhumash-shirâthal-mustaqîm
Kami telah membimbing keduanya ke jalan yang lurus.
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِمَا فِى الْاٰخِرِيْنَۖ
wa taraknâ ‘alaihimâ fil-âkhirîn
Kami telah mengabadikan untuk keduanya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,
سَلٰمٌ عَلٰى مُوْسٰى وَهٰرُوْنَ
salâmun ‘alâ mûsâ wa hârûn
“Salam sejahtera atas Musa dan Harun.”
اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ
innâ kadzâlika najzil-muḫsinîn
Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.
اِنَّهُمَا مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ
innahumâ min ‘ibâdinal-mu'minîn
Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin.
وَاِنَّ اِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۗ
wa inna ilyâsa laminal-mursalîn
Sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk para rasul.
اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖٓ اَلَا تَتَّقُوْنَ
idz qâla liqaumihî alâ tattaqûn
(Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu tidak bertakwa?
اَتَدْعُوْنَ بَعْلًا وَّتَذَرُوْنَ اَحْسَنَ الْخٰلِقِيْنَۙ
a tad‘ûna ba‘law wa tadzarûna aḫsanal-khâliqîn
Apakah kamu terus menyeru Ba‘l dan meninggalkan sebaik-baik pencipta,
اللّٰهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ اٰبَاۤىِٕكُمُ الْاَوَّلِيْنَ
allâha rabbakum wa rabba âbâ'ikumul-awwalîn
Allah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yang terdahulu?”
فَكَذَّبُوْهُ فَاِنَّهُمْ لَمُحْضَرُوْنَۙ
fa kadzdzabûhu fa innahum lamuḫdlarûn
Mereka kemudian mendustakannya (Ilyas). Sesungguhnya mereka akan diseret (ke neraka),
اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ
illâ ‘ibâdallâhil-mukhlashîn
kecuali hamba-hamba Allah yang terpilih (karena keikhlasannya).
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَۙ
wa taraknâ ‘alaihi fil-âkhirîn
Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,
سَلٰمٌ عَلٰٓى اِلْ يَاسِيْنَ
salâmun ‘alâ ilyâsîn
“Salam sejahtera atas Ilyas dan kaumnya.”
اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ
innâ kadzâlika najzil-muḫsinîn
Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.
اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ
innahû min ‘ibâdinal-mu'minîn
Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin.
وَاِنَّ لُوْطًا لَّمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۗ
wa inna lûthal laminal-mursalîn
Sesungguhnya Lut benar-benar termasuk para rasul.
اِذْ نَجَّيْنٰهُ وَاَهْلَهٗٓ اَجْمَعِيْۙنَ
idz najjainâhu wa ahlahû ajma‘în
(Ingatlah) ketika Kami telah menyelamatkan dia dan pengikutnya semua,
اِلَّا عَجُوْزًا فِى الْغٰبِرِيْنَ
illâ ‘ajûzan fil-ghâbirîn
kecuali seorang perempuan tua (istrinya) yang termasuk golongan (orang-orang kafir) yang tertinggal.
ثُمَّ دَمَّرْنَا الْاٰخَرِيْنَ
tsumma dammarnal-âkharîn
Kemudian, Kami binasakan yang lain.
وَاِنَّكُمْ لَتَمُرُّوْنَ عَلَيْهِمْ مُّصْبِحِيْنَۙ
wa innakum latamurrûna ‘alaihim mushbiḫîn
Sesungguhnya kamu (penduduk Makkah) benar-benar akan melintasi (bekas-bekas kehancuran) mereka pada waktu pagi
وَبِالَّيْلِۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَࣖ
wa bil-laîl, a fa lâ ta‘qilûn
dan waktu malam. Mengapa kamu tidak mengerti?
وَاِنَّ يُوْنُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۗ
wa inna yûnusa laminal-mursalîn
Sesungguhnya Yunus benar-benar termasuk para rasul.
اِذْ اَبَقَ اِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِۙ
idz abaqa ilal-fulkil-masy-ḫûn
(Ingatlah) ketika dia berlari ke kapal yang penuh muatan,
فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِيْنَۚ
fa sâhama fa kâna minal-mud-ḫadlîn
kemudian dia ikut diundi, maka dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian).
فَالْتَقَمَهُ الْحُوْتُ وَهُوَ مُلِيْمٌ
faltaqamahul-ḫûtu wa huwa mulîm
Dia kemudian ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.
فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَۙ
falau lâ annahû kâna minal-musabbiḫîn
Seandainya dia bukan golongan orang yang banyak bertasbih kepada Allah,
لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَۚ
lalabitsa fî bathnihî ilâ yaumi yub‘atsûn
niscaya dia akan tetap tinggal di perutnya (ikan) sampai hari Kebangkitan.
فَنَبَذْنٰهُ بِالْعَرَاۤءِ وَهُوَ سَقِيْمٌۚ
fa nabadznâhu bil-‘arâ'i wa huwa saqîm
Kami kemudian melemparkannya (dari mulut ikan) ke daratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit.
وَاَنْۢبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِّنْ يَّقْطِيْنٍۚ
wa ambatnâ ‘alaihi syajaratam miy yaqthîn
Kami kemudian menumbuhkan tanaman sejenis labu untuknya.
وَاَرْسَلْنٰهُ اِلٰى مِائَةِ اَلْفٍ اَوْ يَزِيْدُوْنَۚ
wa arsalnâhu ilâ mi'ati alfin au yazîdûn
Kami mengutusnya kepada seratus ribu (orang) atau lebih,
فَاٰمَنُوْا فَمَتَّعْنٰهُمْ اِلٰى حِيْنٍ
fa âmanû fa matta‘nâhum ilâ ḫîn
lalu mereka beriman. Maka, Kami menganugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu tertentu.
فَاسْتَفْتِهِمْ اَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَلَهُمُ الْبَنُوْنَۚ
fastaftihim a lirabbikal-banâtu wa lahumul-banûn
(Wahai Nabi Muhammad), tanyalah mereka (orang-orang kafir Makkah), “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan, sedangkan untuk mereka anak-anak laki-laki
اَمْ خَلَقْنَا الْمَلٰۤىِٕكَةَ اِنَاثًا وَّهُمْ شٰهِدُوْنَ
am khalaqnal-malâ'ikata inâtsaw wa hum syâhidûn
atau Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan, sedangkan mereka menyaksikan(-nya)?”
اَلَآ اِنَّهُمْ مِّنْ اِفْكِهِمْ لَيَقُوْلُوْنَۙ
alâ innahum min ifkihim layaqûlûn
Ingatlah, sesungguhnya mereka benar-benar mengatakan dengan kebohongan mereka,
وَلَدَ اللّٰهُۙ وَاِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَۙ
waladallâhu wa innahum lakâdzibûn
“Allah mempunyai anak.” Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.
اَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِيْنَۗ
ashthafal-banâti ‘alal-banîn
Apakah Dia (Allah) lebih memilih anak-anak perempuan daripada anak-anak laki-laki?
مَا لَكُمْۗ كَيْفَ تَحْكُمُوْنَ
mâ lakum, kaifa taḫkumûn
Apa yang telah terjadi pada kamu? Bagaimana kamu menetapkan(-nya)?
اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَۚ
a fa lâ tadzakkarûn
Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
اَمْ لَكُمْ سُلْطٰنٌ مُّبِيْنٌۙ
am lakum sulthânum mubîn
Ataukah kamu mempunyai bukti yang jelas?
فَأْتُوْا بِكِتٰبِكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
fa'tû bikitâbikum ing kuntum shâdiqîn
(Kalau begitu,) bawalah kitabmu jika kamu orang-orang yang benar.
وَجَعَلُوْا بَيْنَهٗ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَبًاۗ وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ اِنَّهُمْ لَمُحْضَرُوْنَۙ
wa ja‘alû bainahû wa bainal-jinnati nasabâ, wa laqad ‘alimatil-jinnatu innahum lamuḫdlarûn
Mereka menjadikan (hubungan) nasab antara Dia dan jin. Sungguh, jin benar-benar telah mengetahui bahwa mereka (kaum musyrik) pasti akan diseret (ke neraka),
سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يَصِفُوْنَۙ
sub-ḫanallâhi ‘ammâ yashifûn
Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan,
اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ
illâ ‘ibâdallâhil-mukhlashîn
kecuali hamba-hamba Allah yang terpilih (karena keikhlasannya).
فَاِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُوْنَۙ
fa innakum wa mâ ta‘budûn
Maka, sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah itu
مَآ اَنْتُمْ عَلَيْهِ بِفٰتِنِيْنَۙ
mâ antum ‘alaihi bifâtinîn
tidak akan dapat menyesatkan (seseorang) terhadap Allah,
اِلَّا مَنْ هُوَ صَالِ الْجَحِيْمِ
illâ man huwa shâlil-jaḫîm
kecuali orang yang akan masuk ke (neraka) Jahim.
وَمَا مِنَّآ اِلَّا لَهٗ مَقَامٌ مَّعْلُوْمٌۙ
wa mâ minnâ illâ lahû maqâmum ma‘lûm
(Malaikat berkata), “Tidak satu pun di antara kami, kecuali masing-masing mempunyai kedudukan tertentu.
وَاِنَّا لَنَحْنُ الصَّۤافُّوْنَۖ
wa innâ lanaḫnush-shâffûn
Sesungguhnya kamilah yang selalu teratur dalam barisan (dalam melaksanakan perintah Allah).
وَاِنَّا لَنَحْنُ الْمُسَبِّحُوْنَ
wa innâ lanaḫnul-musabbiḫûn
Sesungguhnya kamilah yang benar-benar terus bertasbih (kepada Allah).”
وَاِنْ كَانُوْا لَيَقُوْلُوْنَۙ
wa ing kânû layaqûlûn
Sesungguhnya mereka (orang kafir Makkah) benar-benar berkata,
لَوْ اَنَّ عِنْدَنَا ذِكْرًا مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ
lau anna ‘indanâ dzikram minal-awwalîn
“Seandainya di sisi kami ada sebuah kitab dari (kitab-kitab yang diturunkan) kepada orang-orang terdahulu,
لَكُنَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ
lakunnâ ‘ibâdallâhil-mukhlashîn
niscaya kami akan menjadi hamba-hamba Allah yang terpilih.
فَكَفَرُوْا بِهٖۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ
fa kafarû bih, fa saufa ya‘lamûn
Akan tetapi, ternyata mereka mengingkarinya (Al-Qur’an). Maka, kelak mereka akan mengetahui (akibat keingkarannya itu).
وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِيْنَۖ
wa laqad sabaqat kalimatunâ li‘ibâdinal-mursalîn
Sungguh, janji Kami benar-benar telah tetap bagi hamba-hamba Kami yang menjadi rasul.
اِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُوْرُوْنَۖ
innahum lahumul-manshûrûn
Sesungguhnya merekalah yang pasti akan mendapat pertolongan,
وَاِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغٰلِبُوْنَ
wa inna jundanâ lahumul-ghâlibûn
dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang.
فَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتّٰى حِيْنٍۙ
fa tawalla ‘an-hum ḫattâ ḫîn
Maka, berpalinglah engkau (Nabi Muhammad) dari mereka sampai waktu tertentu!
وَّاَبْصِرْهُمْۗ فَسَوْفَ يُبْصِرُوْنَ
wa abshir-hum, fa saufa yubshirûn
Lihatlah mereka! Maka, kelak mereka akan melihat (azab itu).
اَفَبِعَذَابِنَا يَسْتَعْجِلُوْنَ
a fa bi‘adzâbinâ yasta‘jilûn
Maka, apakah mereka meminta agar azab Kami disegerakan?
فَاِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمْ فَسَاۤءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِيْنَ
fa idzâ nazala bisâḫatihim fa sâ'a shabâḫul-mundzarîn
Apabila turun (siksaan itu) di halaman mereka, sangat buruklah pagi hari bagi orang-orang yang diperingatkan itu.
وَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتّٰى حِيْنٍۙ
wa tawalla ‘an-hum ḫattâ ḫîn
Berpalinglah engkau (Nabi Muhammad) dari mereka sampai waktu tertentu.
وَّاَبْصِرْۗ فَسَوْفَ يُبْصِرُوْنَ
wa abshir, fa saufa yubshirûn
Lihatlah (mereka)! Maka, kelak mereka akan melihat (azab itu).
سُبْحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَۚ
sub-ḫâna rabbika rabbil-‘izzati ‘ammâ yashifûn
Mahasuci Tuhanmu, Tuhan pemilik kemuliaan dari apa yang mereka sifatkan.
وَسَلٰمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَۚ
wa salâmun ‘alal-mursalîn
Selamat sejahtera bagi para rasul.
وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَࣖ
wal-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
Anda baru saja membaca Surat As-Saffat.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.
As-Saffat diawali dengan sumpah demi malaikat yang berbaris di hadapan Allah, kemudian mengisahkan ujian terbesar Nabi Ibrahim saat diperintahkan menyembelih putranya Ismail yang diganti dengan sembelihan agung. Surat ini juga mengisahkan Nabi Nuh, Musa, Harun, Ilyas, Luth, dan Yunus dalam perut ikan. Surat As-Saffat terdiri dari 182 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).
Surat As-Saffat terdiri dari 182 ayat dan terdapat pada juz 23 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 36 menit (disarankan dibaca bertahap).
Nama "As-Saffat" (الصافات) berarti "Barisan-Barisan" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-37 dalam urutan mushaf Al-Quran.
Surat As-Saffat termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.
Surat As-Saffat dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.
Surat ini mengandung kisah pengorbanan agung Nabi Ibrahim yang menjadi dasar syariat kurban (Idul Adha) dalam Islam. Mengandung pelajaran tentang ketaatan total kepada perintah Allah, sebagaimana dicontohkan Ibrahim dan Ismail. Surat ini menegaskan bahwa malaikat adalah hamba Allah yang mulia, bukan anak-anak Allah sebagaimana klaim kaum musyrikin. Menampilkan kisah Nabi Yunus sebagai teladan bertaubat dan bertasbih di saat kesulitan.
Ya, LiteQuran menyediakan Surat As-Saffat lengkap dengan teks Arab, Latin, terjemahan, tafsir, dan audio murottal secara 100% gratis dan tanpa iklan sama sekali. Halaman dimuat sangat cepat karena tidak ada script iklan yang memperlambat. Anda bisa fokus membaca Al-Quran tanpa gangguan pop-up atau banner iklan.