Surat As Sajdah

Sajdah • Makkiyah • 30 ayat

Tentang Surat As-Sajdah

Baca Surat As-Sajdah (Sajdah — السجدة) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 30 ayat Makkiyah (Juz 21) — surat ke-32 dalam Al-Quran.

As-Sajdah menegaskan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya dalam enam hari, kemudian bersemayam di atas Arsy mengatur segala urusan. Surat ini juga memuji keistimewaan orang yang bangun malam untuk beribadah (qiyamul lail) dan disunahkan membacanya setiap Jumat subuh..

Tema Utama

  • Kebenaran Al-Quran sebagai wahyu dari Allah Rabb semesta alam
  • Proses penciptaan manusia dan peniupan ruh
  • Keutamaan qiyamul lail dan orang yang bangun di malam hari
  • Kepastian Hari Kebangkitan dan pembalasan amal
  • Perbedaan antara orang beriman dan orang fasik

Kandungan Surat

Ayat 1-3Pembukaan surat — penegasan bahwa Al-Quran benar-benar diturunkan dari Tuhan semesta alam, bukan karangan Muhammad ﷺ, melainkan wahyu untuk memperingatkan kaum yang belum didatangi pemberi peringatan.
Ayat 4-9Kekuasaan Allah dalam penciptaan — Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, mengatur segala urusan, menciptakan manusia dari tanah, kemudian dari saripati air yang hina, lalu menyempurnakan dan meniupkan ruh.
Ayat 10-14Pengingkaran orang kafir terhadap Hari Kebangkitan — mereka berkata 'apakah setelah kami hilang di bumi, kami akan diciptakan kembali?' Malaikat maut akan mencabut nyawa mereka, dan di Hari Kiamat mereka mengakui kesalahan namun sudah terlambat.
Ayat 15-17Sifat orang beriman — lambung mereka jauh dari tempat tidur (bangun qiyamul lail), berdoa dengan rasa takut dan harap, serta menafkahkan sebagian rezeki. Mereka dijanjikan pahala yang tersembunyi yang menyenangkan hati.
Ayat 18-22Perbedaan orang beriman dan orang fasik — keduanya tidak sama. Orang beriman mendapat surga sebagai balasan, orang fasik mendapat neraka. Setiap kali mereka hendak keluar, mereka dikembalikan ke dalamnya.
Ayat 23-30Musa diberi Taurat sebagai petunjuk bagi Bani Israil, Allah menjadikan pemimpin yang memberi petunjuk ketika mereka bersabar, tanda-tanda kekuasaan Allah di bumi, dan perintah berpaling dari orang kafir serta menunggu keputusan Allah.

Keutamaan

  • Nabi Muhammad ﷺ membaca surat As-Sajdah dan surat Al-Insan (Ad-Dahr) pada shalat Subuh hari Jumat. (HR. Al-Bukhari & Muslim)
  • Mengandung ayat sajdah tilawah (ayat 15) yang merupakan salah satu ayat sajdah dalam Al-Quran.
  • Memuat deskripsi tentang keutamaan qiyamul lail (ayat 16-17) dan pahala yang tersembunyi bagi pelakunya yang tidak diketahui oleh siapapun.
  • Nabi ﷺ tidak tidur sebelum membaca surat As-Sajdah dan surat Al-Mulk setiap malam. (HR. At-Tirmidzi)

Asbab Nuzul

Surat As-Sajdah termasuk surat Makkiyah yang turun pada periode Mekkah. Surat ini turun untuk menegaskan kebenaran Al-Quran sebagai wahyu Allah dan membantah tuduhan kaum kafir bahwa Al-Quran adalah karangan Muhammad ﷺ. Surat ini juga menekankan kepastian Hari Kebangkitan yang diingkari oleh kaum musyrikin, serta menggambarkan perbedaan mendasar antara orang beriman yang taat dan orang fasik yang berpaling.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Jami' At-Tirmidzi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
1

الۤمّۤۗ

alif lâm mîm

Alif Lām Mīm.

2

تَنْزِيْلُ الْكِتٰبِ لَا رَيْبَ فِيْهِ مِنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ

tanzîlul-kitâbi lâ raiba fîhi mir rabbil-‘âlamîn

Turunnya Al-Qur’an yang tidak ada keraguan di dalamnya berasal dari Tuhan semesta alam.

3

اَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرٰىهُۚ بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَّآ اَتٰىهُمْ مِّنْ نَّذِيْرٍ مِّنْ قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُوْنَ

am yaqûlûnaftarâh, bal huwal-ḫaqqu mir rabbika litundzira qaumam mâ atâhum min nadzîrim ming qablika la‘allahum yahtadûn

Akan tetapi, mengapa mereka (orang kafir) mengatakan, “Dia (Nabi Muhammad) telah mengada-adakannya.” Sebaliknya, Al-Qur’an itulah kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu agar engkau memberi peringatan kepada kaum yang sama sekali belum pernah didatangi seorang pemberi peringatan sebelum engkau. (Demikian ini) agar mereka mendapat petunjuk.

4

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ مَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا شَفِيْعٍۗ اَفَلَا تَتَذَكَّرُوْنَ

allâhulladzî khalaqas-samâwâti wal-ardla wa mâ bainahumâ fî sittati ayyâmin tsummastawâ ‘alal-‘arsy, mâ lakum min dûnihî miw waliyyiw wa lâ syafî‘, a fa lâ tatadzakkarûn

Allah adalah Zat yang menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia berkuasa atas ‘Arasy. Bagimu tidak ada seorang pun pelindung dan pemberi syafaat selain Dia. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?

5

يُدَبِّرُ الْاَمْرَ مِنَ السَّمَاۤءِ اِلَى الْاَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗٓ اَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ

yudabbirul-amra minas-samâ'i ilal-ardli tsumma ya‘ruju ilaihi fî yauming kâna miqdâruhû alfa sanatim mimmâ ta‘uddûn

Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (segala urusan) itu naik kepada-Nya pada hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.

6

ذٰلِكَ عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُۙ

dzâlika ‘âlimul-ghaibi wasy-syahâdatil-‘azîzur-raḫîm

Itu adalah (Tuhan) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.

7

الَّذِيْٓ اَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهٗ وَبَدَاَ خَلْقَ الْاِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍ

alladzî aḫsana kulla syai'in khalaqahû wa bada'a khalqal-insâni min thîn

(Dia juga) yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan memulai penciptaan manusia dari tanah.

8

ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهٗ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ مَّاۤءٍ مَّهِيْنٍۚ

tsumma ja‘ala naslahû min sulâlatim mim mâ'im mahîn

Kemudian, Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani).

9

ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ

tsumma sawwâhu wa nafakha fîhi mir rûḫihî wa ja‘ala lakumus-sam‘a wal-abshâra wal-af'idah, qalîlam mâ tasykurûn

Kemudian, Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)-nya. Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani untukmu. Sedikit sekali kamu bersyukur.

10

وَقَالُوْٓا ءَاِذَا ضَلَلْنَا فِى الْاَرْضِ ءَاِنَّا لَفِيْ خَلْقٍ جَدِيْدٍ ەۗ بَلْ هُمْ بِلِقَاۤءِ رَبِّهِمْ كٰفِرُوْنَ

wa qâlû a idzâ dlalalnâ fil-ardli a innâ lafî khalqin jadîd, bal hum biliqâ'i rabbihim kâfirûn

Mereka berkata, “Apakah apabila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami akan (kembali) dalam ciptaan yang baru?” Bahkan (bukan hanya itu), mereka pun mengingkari pertemuan dengan Tuhannya.

11

۞ قُلْ يَتَوَفّٰىكُمْ مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِيْ وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ تُرْجَعُوْنَࣖ

qul yatawaffâkum malakul-mautilladzî wukkila bikum tsumma ilâ rabbikum turja‘ûn

Katakanlah, “Malaikat maut yang diserahi (tugas) untuk (mencabut nyawa)-mu akan mematikanmu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.”

12

وَلَوْ تَرٰىٓ اِذِ الْمُجْرِمُوْنَ نَاكِسُوْا رُءُوْسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۗ رَبَّنَآ اَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا اِنَّا مُوْقِنُوْنَ

walau tarâ idzil-mujrimûna nâkisû ru'ûsihim ‘inda rabbihim, rabbanâ absharnâ wa sami‘nâ farji‘nâ na‘mal shâliḫan innâ mûqinûn

Jika sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (kamu akan melihat sesuatu yang sangat luar biasa dan mereka berkata,) “Ya Tuhan kami, kami telah melihat (hari Kiamat yang kami ingkari) dan mendengar (dari-Mu kebenaran ucapan rasul-rasul-Mu). Maka, kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan beramal saleh. Sesungguhnya kami (sekarang) adalah orang-orang yang yakin (akan adanya hari Kiamat).”

13

وَلَوْ شِئْنَا لَاٰتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدٰىهَا وَلٰكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّيْ لَاَمْلَـَٔنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ

walau syi'nâ la'âtainâ kulla nafsin hudâhâ wa lâkin ḫaqqal-qaulu minnî la'amla'anna jahannama minal-jinnati wan-nâsi ajma‘în

Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami menganugerahkan kepada setiap jiwa petunjuk (bagi)-nya, tetapi telah berlaku ketetapan dari-Ku (bahwa) sungguh Aku pasti akan memenuhi (neraka) Jahanam dengan jin dan manusia bersama-sama.

14

فَذُوْقُوْا بِمَا نَسِيْتُمْ لِقَاۤءَ يَوْمِكُمْ هٰذَاۚ اِنَّا نَسِيْنٰكُمْ وَذُوْقُوْا عَذَابَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

fa dzûqû bimâ nasîtum liqâ'a yaumikum hâdzâ, innâ nasînâkum wa dzûqû ‘adzâbal-khuldi bimâ kuntum ta‘malûn

Rasakanlah olehmu (azab ini) karena kamu melalaikan pertemuan dengan harimu ini (hari Kiamat). Sesungguhnya Kami pun melalaikanmu. Rasakanlah azab yang kekal karena apa yang selalu kamu kerjakan!”

15

اِنَّمَا يُؤْمِنُ بِاٰيٰتِنَا الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِّرُوْا بِهَا خَرُّوْا سُجَّدًا وَّسَبَّحُوْا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ ۩

innamâ yu'minu bi'âyâtinalladzîna idzâ dzukkirû bihâ kharrû sujjadaw wa sabbaḫû biḫamdi rabbihim wa hum lâ yastakbirûn

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur (dalam keadaan) sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya dan mereka pun tidak menyombongkan diri.

16

تَتَجَافٰى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَّطَمَعًاۖ وَّمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

tatajâfâ junûbuhum ‘anil-madlâji‘i yad‘ûna rabbahum khaufaw wa thama‘aw wa mimmâ razaqnâhum yunfiqûn

Lambung (tubuh) mereka jauh dari tempat tidur (untuk salat malam) seraya berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut (akan siksa-Nya) dan penuh harap (akan rahmat-Nya) dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

17

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ اُخْفِيَ لَهُمْ مِّنْ قُرَّةِ اَعْيُنٍۚ جَزَاۤءًۢ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

fa lâ ta‘lamu nafsum mâ ukhfiya lahum ming qurrati a‘yun, jazâ'am bimâ kânû ya‘malûn

Tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa (macam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang selalu mereka kerjakan.

18

اَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًاۗ لَا يَسْتَوٗنَ

a fa mang kâna mu'minang kamang kâna fâsiqâ, lâ yastawûn

Apakah orang mukmin sama dengan orang fasik (kafir)? (Pastilah) mereka tidak sama.

19

اَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ جَنّٰتُ الْمَأْوٰىۖ نُزُلًا ۢ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

ammalladzîna âmanû wa ‘amilush-shâliḫâti fa lahum jannâtul-ma'wâ nuzulam bimâ kânû ya‘malûn

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka akan mendapat surga-surga (sebagai) tempat kediaman sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan.

20

وَاَمَّا الَّذِيْنَ فَسَقُوْا فَمَأْوٰىهُمُ النَّارُ كُلَّمَآ اَرَادُوْٓا اَنْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَآ اُعِيْدُوْا فِيْهَا وَقِيْلَ لَهُمْ ذُوْقُوْا عَذَابَ النَّارِ الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَ

wa ammalladzîna fasaqû fa ma'wâhumun-nâru kullamâ arâdû ay yakhrujû min-hâ u‘îdû fîhâ wa qîla lahum dzûqû ‘adzâban-nârilladzî kuntum bihî tukadzdzibûn

Adapun orang-orang yang fasik (kafir), tempat kediaman mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah azab neraka yang dahulu selalu kamu dustakan.”

21

وَلَنُذِيْقَنَّهُمْ مِّنَ الْعَذَابِ الْاَدْنٰى دُوْنَ الْعَذَابِ الْاَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

wa lanudzîqannahum minal-‘adzâbil-adnâ dûnal-‘adzâbil-akbari la‘allahum yarji‘ûn

Kami pasti akan menimpakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

22

وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِاٰيٰتِ رَبِّهٖ ثُمَّ اَعْرَضَ عَنْهَاۗ اِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِيْنَ مُنْتَقِمُوْنَࣖ

wa man adhlamu mim man dzukkira bi'âyâti rabbihî tsumma a‘radla ‘an-hâ, innâ minal-mujrimîna muntaqimûn

Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian dia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami akan memberikan balasan kepada para pendosa.

23

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ فَلَا تَكُنْ فِيْ مِرْيَةٍ مِّنْ لِّقَاۤىِٕهٖ وَجَعَلْنٰهُ هُدًى لِّبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَۚ

wa laqad âtainâ mûsal-kitâba fa lâ takun fî miryatim mil liqâ'ihî wa ja‘alnâhu hudal libanî isrâ'îl

Sungguh, Kami benar-benar telah menganugerahkan Kitab (Taurat) kepada Musa. Maka, janganlah engkau (Nabi Muhammad) ragu-ragu menerimanya (Al-Qur’an) dan Kami menjadikan Kitab (Taurat) itu sebagai petunjuk bagi Bani Israil.

24

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ اَىِٕمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْاۗ وَكَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يُوْقِنُوْنَ

wa ja‘alnâ min-hum a'immatay yahdûna bi'amrinâ lammâ shabarû, wa kânû bi'âyâtinâ yûqinûn

Kami menjadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar. Mereka selalu meyakini ayat-ayat Kami.

25

اِنَّ رَبَّكَ هُوَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ

inna rabbaka huwa yafshilu bainahum yaumal-qiyâmati fîmâ kânû fîhi yakhtalifûn

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang memutuskan di antara mereka pada hari Kiamat apa yang dahulu selalu mereka perselisihkan.

26

اَوَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ اَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِّنَ الْقُرُوْنِ يَمْشُوْنَ فِيْ مَسٰكِنِهِمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍۗ اَفَلَا يَسْمَعُوْنَ

a wa lam yahdi lahum kam ahlaknâ ming qablihim minal-qurûni yamsyûna fî masâkinihim, inna fî dzâlika la'âyât, a fa lâ yasma‘ûn

Tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum kafir Makkah), betapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah). Apakah mereka tidak mendengarkan (memperhatikan)?

27

اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّا نَسُوْقُ الْمَاۤءَ اِلَى الْاَرْضِ الْجُرُزِ فَنُخْرِجُ بِهٖ زَرْعًا تَأْكُلُ مِنْهُ اَنْعَامُهُمْ وَاَنْفُسُهُمْۗ اَفَلَا يُبْصِرُوْنَ

a wa lam yarau annâ nasûqul-mâ'a ilal-ardlil-juruzi fa nukhriju bihî zar‘an ta'kulu min-hu an‘âmuhum wa anfusuhum, a fa lâ yubshirûn

Tidakkah mereka memperhatikan bahwa Kami mengarahkan (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami menumbuhkan dengannya (air hujan) tanam-tanaman, sehingga hewan-hewan ternak mereka dan mereka sendiri dapat makan darinya. Maka, mengapa mereka tidak memperhatikan?

28

وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هٰذَا الْفَتْحُ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

wa yaqûlûna matâ hâdzal-fat-ḫu ing kuntum shâdiqîn

Mereka bertanya, “Kapankah kemenangan itu (datang) jika engkau orang yang benar?”

29

قُلْ يَوْمَ الْفَتْحِ لَا يَنْفَعُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِيْمَانُهُمْ وَلَا هُمْ يُنْظَرُوْنَ

qul yaumal-fat-ḫi lâ yanfa‘ulladzîna kafarû îmânuhum wa lâ hum yundharûn

Katakanlah, “Pada hari kemenangan itu tidak berguna lagi bagi orang-orang kafir keimanan mereka dan mereka tidak diberi penangguhan.”

30

فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ وَانْتَظِرْ اِنَّهُمْ مُّنْتَظِرُوْنَࣖ

fa a‘ridl ‘an-hum wantadhir innahum muntadhirûn

Maka, berpalinglah dari mereka dan tunggulah! Sesungguhnya mereka (juga) menunggu.

Anda baru saja membaca Surat As-Sajdah.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.

Donasi Sekarang

Pertanyaan Umum tentang Surat As-Sajdah

Apa isi kandungan Surat As-Sajdah?

As-Sajdah menegaskan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya dalam enam hari, kemudian bersemayam di atas Arsy mengatur segala urusan. Surat ini juga memuji keistimewaan orang yang bangun malam untuk beribadah (qiyamul lail) dan disunahkan membacanya setiap Jumat subuh. Surat As-Sajdah terdiri dari 30 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).

Berapa jumlah ayat Surat As-Sajdah?

Surat As-Sajdah terdiri dari 30 ayat dan terdapat pada juz 21 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 6 menit.

Mengapa surat ini dinamakan As-Sajdah (Sajdah)?

Nama "As-Sajdah" (السجدة) berarti "Sajdah" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-32 dalam urutan mushaf Al-Quran.

Apakah Surat As-Sajdah Makkiyah atau Madaniyah?

Surat As-Sajdah termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.

Kapan waktu terbaik membaca Surat As-Sajdah?

Surat As-Sajdah dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.

Apa keutamaan membaca Surat As-Sajdah?

Nabi Muhammad ﷺ membaca surat As-Sajdah dan surat Al-Insan (Ad-Dahr) pada shalat Subuh hari Jumat. (HR. Al-Bukhari & Muslim) Mengandung ayat sajdah tilawah (ayat 15) yang merupakan salah satu ayat sajdah dalam Al-Quran. Memuat deskripsi tentang keutamaan qiyamul lail (ayat 16-17) dan pahala yang tersembunyi bagi pelakunya yang tidak diketahui oleh siapapun. Nabi ﷺ tidak tidur sebelum membaca surat As-Sajdah dan surat Al-Mulk setiap malam. (HR. At-Tirmidzi)

Apakah membaca Surat As-Sajdah di LiteQuran benar-benar gratis dan tanpa iklan?

Ya, LiteQuran menyediakan Surat As-Sajdah lengkap dengan teks Arab, Latin, terjemahan, tafsir, dan audio murottal secara 100% gratis dan tanpa iklan sama sekali. Halaman dimuat sangat cepat karena tidak ada script iklan yang memperlambat. Anda bisa fokus membaca Al-Quran tanpa gangguan pop-up atau banner iklan.