Surat At Talaq

Talak • Madaniyah • 12 ayat

Tentang Surat At-Talaq

Baca Surat At-Talaq (Talak — الطلاق) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 12 ayat Madaniyah (Juz 28) — surat ke-65 dalam Al-Quran.

At-Talaq mengatur secara rinci prosedur talak dalam Islam, termasuk masa iddah, kewajiban nafkah selama masa iddah, dan hak menyusui bagi ibu yang dicerai. Surat ini menekankan agar setiap perkara diselesaikan dengan adil dan bertakwa kepada Allah, serta menjanjikan jalan keluar bagi siapa yang bertakwa..

Tema Utama

  • Prosedur dan tata cara talak yang sesuai syariat Islam
  • Ketentuan masa iddah bagi berbagai kondisi wanita
  • Kewajiban nafkah dan tempat tinggal bagi istri yang ditalak
  • Perintah bertakwa kepada Allah dan janji kemudahan bagi yang bertakwa
  • Kekuasaan Allah yang meliputi segala sesuatu dan ilmu-Nya yang menjangkau segalanya

Kandungan Surat

Ayat 1-2Prosedur talak — Nabi ﷺ diperintahkan untuk menyampaikan bahwa jika menceraikan istri, hendaklah menceraikan mereka pada waktu mereka dapat menghadapi iddahnya (dalam keadaan suci dan belum dicampuri). Istri tidak boleh dikeluarkan dari rumah selama iddah, kecuali jika melakukan perbuatan keji yang jelas.
Ayat 2-3Rujuk dan tawakal — ketika mendekati akhir iddah, suami boleh merujuk dengan baik atau menceraikan dengan baik, dengan persaksian dua orang yang adil. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah memberikan jalan keluar dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka.
Ayat 4-5Ketentuan iddah — wanita menopause iddahnya tiga bulan, begitu pula yang belum haid. Wanita hamil iddahnya sampai melahirkan. Barangsiapa bertakwa, Allah memudahkan urusannya.
Ayat 6-7Hak nafkah dan tempat tinggal — istri yang ditalak harus diberikan tempat tinggal sesuai kemampuan suami. Wanita hamil dinafkahi sampai melahirkan. Jika menyusui anak, hendaklah diberi imbalan. Orang yang mampu hendaklah memberi nafkah menurut kemampuannya.
Ayat 8-12Peringatan dan kekuasaan Allah — ancaman bagi negeri-negeri yang durhaka kepada perintah Allah dan rasul-Nya. Penegasan bahwa Allah menciptakan tujuh langit dan bumi yang serupa, agar manusia mengetahui kekuasaan dan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu.

Keutamaan

  • Surat ini menjadi rujukan utama dalam fikih Islam tentang hukum talak, iddah, dan nafkah pasca-perceraian.
  • Memuat ayat agung tentang janji Allah: "Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan baginya jalan keluar, dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka." (ayat 2-3) — salah satu ayat yang paling sering dijadikan pegangan umat Islam.
  • Ibnu Mas'ud berkata bahwa ayat 2-3 surat At-Talaq adalah ayat paling agung dalam Al-Quran tentang tafwidh (penyerahan urusan kepada Allah).
  • Mengandung prinsip keadilan Islam dalam melindungi hak-hak perempuan pasca-perceraian.

Asbab Nuzul

Surat At-Talaq turun di Madinah dan banyak terkait dengan peristiwa talak yang terjadi di kalangan sahabat. Salah satu riwayat menyebutkan bahwa ayat-ayat awal surat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Umar yang menceraikan istrinya dalam keadaan haid. Rasulullah ﷺ memerintahkannya untuk merujuk istrinya dan menunggu hingga ia suci, kemudian jika ingin menceraikannya, hendaklah menceraikannya dalam keadaan suci sebelum dicampuri. Inilah talak sunnah yang sesuai dengan ketentuan Allah.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Tafsir Al-Qurthubi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
1

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ فَطَلِّقُوْهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَاَحْصُوا الْعِدَّةَۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ رَبَّكُمْۚ لَا تُخْرِجُوْهُنَّ مِنْۢ بُيُوْتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍۗ وَتِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِۗ وَمَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللّٰهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهٗۗ لَا تَدْرِيْ لَعَلَّ اللّٰهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذٰلِكَ اَمْرًا

yâ ayyuhan-nabiyyu idzâ thallaqtumun-nisâ'a fa thalliqûhunna li‘iddatihinna wa aḫshul-‘iddah, wattaqullâha rabbakum, lâ tukhrijûhunna mim buyûtihinna wa lâ yakhrujna illâ ay ya'tîna bifâḫisyatim mubayyinah, wa tilka ḫudûdullâh, wa may yata‘adda ḫudûdallâhi fa qad dhalama nafsah, lâ tadrî la‘allallâha yuḫditsu ba‘da dzâlika amrâ

Wahai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu idah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah (diizinkan) keluar kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas. Itulah hukum-hukum Allah. Siapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh, dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui boleh jadi setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru.

2

فَاِذَا بَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَاَمْسِكُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ فَارِقُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ وَّاَشْهِدُوْا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنْكُمْ وَاَقِيْمُوا الشَّهَادَةَ لِلّٰهِۗ ذٰلِكُمْ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ەۗ وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ

fa idzâ balaghna ajalahunna fa amsikûhunna bima‘rûfin au fâriqûhunna bima‘rûfiw wa asy-hidû dzawai ‘adlim mingkum wa aqîmusy-syahâdata lillâh, dzâlikum yû‘adhu bihî mang kâna yu'minu billâhi wal-yaumil-âkhir, wa may yattaqillâha yaj‘al lahû makhrajâ

Apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, rujuklah dengan mereka secara baik atau lepaskanlah mereka secara baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil dari kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Yang demikian itu dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya

3

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

wa yarzuq-hu min ḫaitsu lâ yaḫtasib, wa may yatawakkal ‘alallâhi fa huwa ḫasbuh, innallâha bâlighu amrih, qad ja‘alallâhu likulli syai'ing qadrâ

dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.

4

وَالّٰۤـِٔيْ يَىِٕسْنَ مِنَ الْمَحِيْضِ مِنْ نِّسَاۤىِٕكُمْ اِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلٰثَةُ اَشْهُرٍۙ وَّالّٰۤـِٔيْ لَمْ يَحِضْنَۗ وَاُولٰتُ الْاَحْمَالِ اَجَلُهُنَّ اَنْ يَّضَعْنَ حَمْلَهُنَّۗ وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا

wal-lâ'i ya'isna minal-maḫîdli min nisâ'ikum inirtabtum fa ‘iddatuhunna tsalâtsatu asy-huriw wal-lâ'i lam yahidln, wa ulâtul-aḫmâli ajaluhunna ay yadla‘na ḫamlahunn, wa may yattaqillâha yaj‘al lahû min amrihî yusrâ

Perempuan-perempuan yang tidak mungkin haid lagi (menopause) di antara istri-istrimu jika kamu ragu-ragu (tentang masa idahnya) maka idahnya adalah tiga bulan. Begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid (belum dewasa). Adapun perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya. Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.

5

ذٰلِكَ اَمْرُ اللّٰهِ اَنْزَلَهٗٓ اِلَيْكُمْۗ وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّاٰتِهٖ وَيُعْظِمْ لَهٗٓ اَجْرًا

dzâlika amrullâhi anzalahû ilaikum, wa may yattaqillâha yukaffir ‘an-hu sayyi'âtihî wa yu‘dhim lahû ajrâ

(Ketentuan idah) itu merupakan perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu. Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan memperbesar pahala baginya.

6

اَسْكِنُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِّنْ وُّجْدِكُمْ وَلَا تُضَاۤرُّوْهُنَّ لِتُضَيِّقُوْا عَلَيْهِنَّۗ وَاِنْ كُنَّ اُولٰتِ حَمْلٍ فَاَنْفِقُوْا عَلَيْهِنَّ حَتّٰى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّۚ فَاِنْ اَرْضَعْنَ لَكُمْ فَاٰتُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّۚ وَأْتَمِرُوْا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوْفٍۚ وَاِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهٗٓ اُخْرٰىۗ

askinûhunna min ḫaitsu sakantum miw wujdikum wa lâ tudlârrûhunna litudlayyiqû ‘alaihinn, wa ing kunna ulâti ḫamlin fa anfiqû ‘alaihinna ḫattâ yadla‘na ḫamlahunn, fa in ardla‘na lakum fa âtûhunna ujûrahunn, wa'tamirû bainakum bima‘rûf, wa in ta‘âsartum fa saturdli‘u lahû ukhrâ

Tempatkanlah mereka (para istri yang dicerai) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Jika mereka (para istri yang dicerai) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya sampai mereka melahirkan, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)-mu maka berikanlah imbalannya kepada mereka; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu sama-sama menemui kesulitan (dalam hal penyusuan), maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.

7

لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِّنْ سَعَتِهٖۗ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهٗ فَلْيُنْفِقْ مِمَّآ اٰتٰىهُ اللّٰهُۗ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا مَآ اٰتٰىهَاۗ سَيَجْعَلُ اللّٰهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُّسْرًاࣖ

liyunfiq dzû sa‘atim min sa‘atih, wa mang qudira ‘alaihi rizquhû falyunfiq mimmâ âtâhullâh, lâ yukallifullâhu nafsan illâ mâ âtâhâ, sayaj‘alullâhu ba‘da ‘usriy yusrâ

Hendaklah orang yang lapang (rezekinya) memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari apa (harta) yang dianugerahkan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang dianugerahkan Allah kepadanya. Allah kelak akan menganugerahkan kelapangan setelah kesempitan.

8

وَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ اَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهٖ فَحَاسَبْنٰهَا حِسَابًا شَدِيْدًاۙ وَّعَذَّبْنٰهَا عَذَابًا نُّكْرًا

wa ka'ayyim ming qaryatin ‘atat ‘an amri rabbihâ wa rusulihî fa ḫâsabnâhâ ḫisâban syadîdaw wa ‘adzdzabnâhâ ‘adzâban nukrâ

Betapa banyak (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan rasul-rasul-Nya, maka Kami buat perhitungan terhadap penduduk negeri itu dengan perhitungan yang ketat, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan.

9

فَذَاقَتْ وَبَالَ اَمْرِهَا وَكَانَ عَاقِبَةُ اَمْرِهَا خُسْرًا

fa dzâqat wa bâla amrihâ wa kâna ‘âqibatu amrihâ khusrâ

Maka, mereka telah merasakan akibat buruk dari perbuatannya, dan akibat perbuatan mereka itu adalah kerugian yang besar.

10

اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًاۖ فَاتَّقُوا اللّٰهَ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِۛ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۛ قَدْ اَنْزَلَ اللّٰهُ اِلَيْكُمْ ذِكْرًاۙ

a‘addallâhu lahum ‘adzâban syadîdan fattaqullâha yâ ulil-albâb, alladzîna âmanû qad anzalallâhu ilaikum dzikrâ

Allah telah menyediakan azab yang sangat pedih bagi mereka. Maka, bertakwalah kepada Allah, wahai ululalbab (orang-orang yang berakal sehat, berhati bersih, dan cerdas,) (yaitu) orang-orang yang beriman. Sungguh, Allah telah menurunkan peringatan kepadamu

11

رَّسُوْلًا يَّتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ مُبَيِّنٰتٍ لِّيُخْرِجَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُّدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ قَدْ اَحْسَنَ اللّٰهُ لَهٗ رِزْقًا

rasûlay yatlû ‘alaikum âyâtillâhi mubayyinâtil liyukhrijalladzîna âmanû wa ‘amilush-shâliḫâti minadh-dhulumâti ilan-nûr, wa may yu'mim billâhi wa ya‘mal shâliḫay yudkhil-hu jannâtin tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ abadâ, qad aḫsanallâhu lahû rizqâ

(berupa) seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Allah kepadamu yang menerangkan (bermacam-macam hukum) agar dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dari kegelapan kepada cahaya. Siapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan kebajikan, niscaya akan Dia masukkan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh, Allah telah menganugerahkan rezeki yang baik kepadanya.

12

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ەۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًاࣖ

allâhulladzî khalaqa sab‘a samâwâtiw wa minal-ardli mitslahunn, yatanazzalul-amru bainahunna lita‘lamû annallâha ‘alâ kulli syai'ing qadîruw wa annallâha qad aḫâtha bikulli syai'in ‘ilmâ

Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan (menciptakan pula) bumi seperti itu. Perintah-Nya berlaku padanya agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.

Anda baru saja membaca Surat At-Talaq.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.

Donasi Sekarang

Pertanyaan Umum tentang Surat At-Talaq

Apa isi kandungan Surat At-Talaq?

At-Talaq mengatur secara rinci prosedur talak dalam Islam, termasuk masa iddah, kewajiban nafkah selama masa iddah, dan hak menyusui bagi ibu yang dicerai. Surat ini menekankan agar setiap perkara diselesaikan dengan adil dan bertakwa kepada Allah, serta menjanjikan jalan keluar bagi siapa yang bertakwa. Surat At-Talaq terdiri dari 12 ayat dan termasuk golongan surat Madaniyah (diturunkan di Madinah).

Berapa jumlah ayat Surat At-Talaq?

Surat At-Talaq terdiri dari 12 ayat dan terdapat pada juz 28 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 2 menit.

Mengapa surat ini dinamakan At-Talaq (Talak)?

Nama "At-Talaq" (الطلاق) berarti "Talak" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-65 dalam urutan mushaf Al-Quran.

Apakah Surat At-Talaq Makkiyah atau Madaniyah?

Surat At-Talaq termasuk golongan surat Madaniyah, yaitu surat yang diturunkan di Madinah. Surat Madaniyah umumnya memuat hukum-hukum syariat, aturan bermasyarakat, serta pedoman hubungan antarumat sebagai panduan hidup bernegara dan bermasyarakat.

Kapan waktu terbaik membaca Surat At-Talaq?

Surat At-Talaq dapat dibaca kapan saja. Sebagai surat Madaniyah yang memuat pedoman syariat dan kehidupan bermasyarakat, membacanya secara rutin membantu memahami hukum-hukum Islam yang terkandung di dalamnya.

Apa keutamaan membaca Surat At-Talaq?

Surat ini menjadi rujukan utama dalam fikih Islam tentang hukum talak, iddah, dan nafkah pasca-perceraian. Memuat ayat agung tentang janji Allah: "Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan baginya jalan keluar, dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka." (ayat 2-3) — salah satu ayat yang paling sering dijadikan pegangan umat Islam. Ibnu Mas'ud berkata bahwa ayat 2-3 surat At-Talaq adalah ayat paling agung dalam Al-Quran tentang tafwidh (penyerahan urusan kepada Allah). Mengandung prinsip keadilan Islam dalam melindungi hak-hak perempuan pasca-perceraian.

Apakah membaca Surat At-Talaq di LiteQuran benar-benar gratis dan tanpa iklan?

Ya, LiteQuran menyediakan Surat At-Talaq lengkap dengan teks Arab, Latin, terjemahan, tafsir, dan audio murottal secara 100% gratis dan tanpa iklan sama sekali. Halaman dimuat sangat cepat karena tidak ada script iklan yang memperlambat. Anda bisa fokus membaca Al-Quran tanpa gangguan pop-up atau banner iklan.