Surat Adz Dzariyat

Angin yang Menerbangkan • Makkiyah • 60 ayat

Tentang Surat Az-Zariyat

Baca Surat Az-Zariyat (Angin yang Menerbangkan — الذاريات) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 60 ayat Makkiyah (Juz 26) — surat ke-51 dalam Al-Quran.

Adz-Dzariyat menegaskan tujuan penciptaan jin dan manusia adalah semata-mata untuk beribadah kepada Allah, bukan karena Allah membutuhkan rezeki dari mereka. Surat ini diawali dengan sumpah demi angin, awan, kapal, dan malaikat, lalu mengisahkan tamu-tamu Ibrahim yang membawa kabar gembira tentang kelahiran Ishak..

Tema Utama

  • Tujuan penciptaan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah
  • Angin sebagai tanda kekuasaan Allah dan pembawa azab
  • Kisah tamu malaikat Nabi Ibrahim dan kabar kelahiran Ishaq
  • Kepastian datangnya hari kiamat dan pembalasan
  • Peringatan melalui kisah kaum Ad, Tsamud, Firaun, dan kaum Nuh

Kandungan Surat

Ayat 1-6Sumpah dengan angin — Allah bersumpah dengan angin yang menerbangkan debu, awan yang mengandung hujan, dan kapal yang berlayar, bahwa hari pembalasan pasti terjadi.
Ayat 7-23Kepastian hari pembalasan — langit yang indah dan penuh bintang, bumi yang dihamparkan, serta janji rezeki di langit, semuanya menjadi bukti kebenaran janji Allah.
Ayat 24-37Tamu Ibrahim — kisah malaikat yang datang sebagai tamu Ibrahim dengan membawa kabar gembira kelahiran Ishaq, lalu melanjutkan perjalanan ke kaum Luth untuk menimpakan azab.
Ayat 38-46Kisah umat terdahulu — pelajaran dari kisah Musa dan Firaun, kaum Ad yang dihancurkan angin, kaum Tsamud yang disambar petir, dan kaum Nuh yang ditenggelamkan.
Ayat 56-60Tujuan penciptaan — 'Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku' (ayat 56), Allah tidak membutuhkan rezeki dari makhluk karena Dia Maha Pemberi Rezeki.

Keutamaan

  • Ayat 56 adalah ayat paling fundamental tentang tujuan penciptaan manusia: 'Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.'
  • Mengandung kisah kemuliaan Ibrahim dalam menjamu tamu yang menjadi dasar adab memuliakan tamu dalam Islam.
  • Menegaskan bahwa Allah adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) yang tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya.
  • Sumpah dengan angin menunjukkan perhatian Al-Quran terhadap fenomena alam sebagai tanda kekuasaan Allah.

Asbab Nuzul

Surat Az-Zariyat adalah surat Makkiyah yang turun di Mekkah. Surat ini turun dalam konteks penolakan kaum Quraisy terhadap hari kebangkitan dan pembalasan. Allah menurunkan surat ini dengan sumpah-sumpah agung untuk meyakinkan mereka tentang kepastian hari kiamat, sekaligus mengingatkan tujuan penciptaan manusia yang sesungguhnya yaitu untuk beribadah kepada Allah semata.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Al-Qurthubi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
1

وَالذّٰرِيٰتِ ذَرْوًاۙ

wadz-dzâriyâti dzarwâ

Demi (angin) yang menerbangkan debu,

2

فَالْحٰمِلٰتِ وِقْرًاۙ

fal-ḫâmilâti wiqrâ

demi (awan) yang mengandung muatan (hujan),

3

فَالْجٰرِيٰتِ يُسْرًاۙ

fal-jâriyâti yusrâ

demi (kapal-kapal) yang melaju (di atas air) dengan mudah,

4

فَالْمُقَسِّمٰتِ اَمْرًاۙ

fal-muqassimâti amrâ

dan demi (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi segala urusan,

5

اِنَّمَا تُوْعَدُوْنَ لَصَادِقٌۙ

innamâ tû‘adûna lashâdiq

sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar

6

وَّاِنَّ الدِّيْنَ لَوَاقِعٌۗ

wa innad-dîna lawâqi‘

dan sesungguhnya pembalasan pasti terjadi.

7

وَالسَّمَاۤءِ ذَاتِ الْحُبُكِۙ

was-samâ'i dzâtil-ḫubuk

Demi langit yang mempunyai jalan-jalan yang kukuh,

8

اِنَّكُمْ لَفِيْ قَوْلٍ مُّخْتَلِفٍۙ

innakum lafî qaulim mukhtalif

sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berselisih.

9

يُّؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ اُفِكَۗ

yu'faku ‘an-hu man ufik

Telah dijauhkan darinya (Al-Qur’an dan Rasul) orang yang dipalingkan.

10

قُتِلَ الْخَرَّاصُوْنَۙ

qutilal-kharrâshûn

Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta,

11

الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ غَمْرَةٍ سَاهُوْنَۙ

alladzîna hum fî ghamratin sâhûn

(yaitu) orang-orang yang terbenam (dalam kebodohan) lagi lalai (dari urusan akhirat)!

12

يَسْـَٔلُوْنَ اَيَّانَ يَوْمُ الدِّيْنِۗ

yas'alûna ayyâna yaumud-dîn

Mereka bertanya, “Kapankah hari Pembalasan itu?”

13

يَوْمَ هُمْ عَلَى النَّارِ يُفْتَنُوْنَ

yauma hum ‘alan-nâri yuftanûn

(Hari Pembalasan terjadi) pada hari (ketika) mereka diazab dalam api neraka.

14

ذُوْقُوْا فِتْنَتَكُمْۗ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تَسْتَعْجِلُوْنَ

dzûqû fitnatakum, hâdzalladzî kuntum bihî tasta‘jilûn

(Dikatakan kepada mereka,) “Rasakanlah azabmu! Inilah azab yang dahulu kamu minta agar disegerakan.”

15

اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ

innal-muttaqîna fî jannâtiw wa ‘uyûn

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam (surga yang penuh) taman-taman dan mata air.

16

اٰخِذِيْنَ مَآ اٰتٰىهُمْ رَبُّهُمْۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَبْلَ ذٰلِكَ مُحْسِنِيْنَۗ

âkhidzîna mâ âtâhum rabbuhum, innahum kânû qabla dzâlika muḫsinîn

(Di surga) mereka dapat mengambil apa saja yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan.

17

كَانُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ

kânû qalîlam minal-laili mâ yahja‘ûn

Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam;

18

وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ

wa bil-as-ḫâri hum yastaghfirûn

dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).

19

وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ

wa fî amwâlihim ḫaqqul lis-sâ'ili wal-maḫrûm

Pada harta benda mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta.

20

وَفِى الْاَرْضِ اٰيٰتٌ لِّلْمُوْقِنِيْنَۙ

wa fil-ardli âyâtul lil-mûqinîn

Di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin.

21

وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ

wa fî anfusikum, a fa lâ tubshirûn

(Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?

22

وَفِى السَّمَاۤءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوْعَدُوْنَ

wa fis-samâ'i rizqukum wa mâ tû‘adûn

Di langit terdapat pula (hujan yang menjadi sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.

23

فَوَرَبِّ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اِنَّهٗ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَآ اَنَّكُمْ تَنْطِقُوْنَࣖ

fa wa rabbis-samâ'i wal-ardli innahû laḫaqqum mitsla mâ annakum tanthiqûn

Maka, demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya (apa yang dijanjikan kepadamu itu) pasti akan nyata seperti (halnya) kamu berucap.

24

هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ ضَيْفِ اِبْرٰهِيْمَ الْمُكْرَمِيْنَۘ

hal atâka ḫadîtsu dlaifi ibrâhîmal-mukramîn

Sudahkah sampai kepadamu (Nabi Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan?

25

اِذْ دَخَلُوْا عَلَيْهِ فَقَالُوْا سَلٰمًاۗ قَالَ سَلٰمٌۚ قَوْمٌ مُّنْكَرُوْنَ

idz dakhalû ‘alaihi fa qâlû salâmâ, qâla salâm, qaumum mungkarûn

(Cerita itu bermula) ketika mereka masuk (bertamu) kepadanya, lalu mengucapkan, “Salam.” Ibrahim menjawab, “Salam.” (Mereka) adalah orang-orang yang belum dikenal.

26

فَرَاغَ اِلٰٓى اَهْلِهٖ فَجَاۤءَ بِعِجْلٍ سَمِيْنٍۙ

fa râgha ilâ ahlihî fa jâ'a bi‘ijlin samîn

Kemudian, dia (Ibrahim) pergi diam-diam menemui keluarganya, lalu datang (kembali) membawa (daging) anak sapi gemuk (yang dibakar).

27

فَقَرَّبَهٗٓ اِلَيْهِمْۚ قَالَ اَلَا تَأْكُلُوْنَ

fa qarrabahû ilaihim, qâla alâ ta'kulûn

Dia lalu menghidangkannya kepada mereka, (tetapi mereka tidak mau makan). Ibrahim berkata, “Mengapa kamu tidak makan?”

28

فَاَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيْفَةًۗ قَالُوْا لَا تَخَفْۗ وَبَشَّرُوْهُ بِغُلٰمٍ عَلِيْمٍ

fa aujasa min-hum khîfah, qâlû lâ takhaf, wa basysyarûhu bighulâmin ‘alîm

Dia (Ibrahim) menyimpan rasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, “Janganlah takut!” Mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (akan kelahiran) seorang anak yang sangat berilmu (Ishaq).

29

فَاَقْبَلَتِ امْرَاَتُهٗ فِيْ صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوْزٌ عَقِيْمٌ

fa aqbalatimra'atuhû fî sharratin fa shakkat waj-hahâ wa qâlat ‘ajûzun ‘aqîm

Istrinya datang sambil berteriak (terperanjat) lalu menepuk-nepuk wajahnya sendiri dan berkata, “(Aku ini) seorang perempuan tua yang mandul.”

30

قَالُوْا كَذٰلِكِۙ قَالَ رَبُّكِۗ اِنَّهٗ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ

qâlû kadzâliki qâla rabbuk, innahû huwal-ḫakîmul-‘alîm

Mereka berkata, “Demikianlah Tuhanmu berfirman. Sesungguhnya Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.”

31

قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ اَيُّهَا الْمُرْسَلُوْنَۚ

qâla fa mâ khathbukum ayyuhal-mursalûn

Dia (Ibrahim) bertanya, “Apa urusan pentingmu, wahai para utusan?”

32

قَالُوْٓ اِنَّآ اُرْسِلْنَآ اِلٰى قَوْمٍ مُّجْرِمِيْنَۙ

qâlû innâ ursilnâ ilâ qaumim mujrimîn

Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Lut untuk menyiksanya)

33

لِنُرْسِلَ عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّنْ طِيْنٍۙ

linursila ‘alaihim ḫijâratam min thîn

agar kami menimpa mereka dengan batu-batu yang berasal dari tanah liat

34

مُّسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُسْرِفِيْنَ

musawwamatan ‘inda rabbika lil-musrifîn

yang ditandai oleh Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas.”

35

فَاَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيْهَا مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَۚ

fa akhrajnâ mang kâna fîhâ minal-mu'minîn

Kami mengeluarkan orang-orang mukmin yang berada di dalamnya (negeri kaum Lut).

36

فَمَا وَجَدْنَا فِيْهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِّنَ الْمُسْلِمِيْنَۚ

fa mâ wajadnâ fîhâ ghaira baitim minal-muslimîn

Kami tidak mendapati di dalamnya, kecuali sebuah rumah dari orang-orang muslim (Lut dan keluarganya).

37

وَتَرَكْنَا فِيْهَآ اٰيَةً لِّلَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ الْعَذَابَ الْاَلِيْمَۗ

wa taraknâ fîhâ âyatal lilladzîna yakhâfûnal-‘adzâbal-alîm

Kami meninggalkan suatu tanda (kebesaran-Nya) di (negeri) itu bagi orang-orang yang takut pada azab yang pedih.

38

وَفِيْ مُوْسٰىٓ اِذْ اَرْسَلْنٰهُ اِلٰى فِرْعَوْنَ بِسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍ

wa fî mûsâ idz arsalnâhu ilâ fir‘auna bisulthânim mubîn

(Begitu pula Kami meninggalkan) pada Musa (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir‘aun dengan membawa mukjizat yang nyata.

39

فَتَوَلّٰى بِرُكْنِهٖ وَقَالَ سٰحِرٌ اَوْ مَجْنُوْنٌ

fa tawallâ biruknihî wa qâla sâḫirun au majnûn

Kemudian, dia (Fir‘aun) bersama bala tentaranya berpaling dan (Fir‘aun) berkata, “(Dia adalah) seorang penyihir atau orang gila.”

40

فَاَخَذْنٰهُ وَجُنُوْدَهٗ فَنَبَذْنٰهُمْ فِى الْيَمِّ وَهُوَ مُلِيْمٌۗ

fa akhadznâhu wa junûdahû fa nabadznâhum fil-yammi wa huwa mulîm

Maka, Kami menghukumnya beserta bala tentaranya, lalu Kami menenggelamkan mereka ke dalam laut dalam keadaan melakukan perbuatan yang tercela.

41

وَفِيْ عَادٍ اِذْ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيْحَ الْعَقِيْمَۚ

wa fî ‘âdin idz arsalnâ ‘alaihimur-rîḫal-‘aqîm

(Begitu pula Kami meninggalkan) pada (kaum) ‘Ad (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengirim kepada mereka angin yang membinasakan.

42

مَا تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ اَتَتْ عَلَيْهِ اِلَّا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيْمِۗ

mâ tadzaru min syai'in atat ‘alaihi illâ ja‘alat-hu kar-ramîm

(Angin) itu tidak meninggalkan apa pun pada semua yang dilandanya, kecuali menjadikannya bagai tulang yang hancur.

43

وَفِيْ ثَمُوْدَ اِذْ قِيْلَ لَهُمْ تَمَتَّعُوْا حَتّٰى حِيْنٍ

wa fî tsamûda idz qîla lahum tamatta‘û ḫattâ ḫîn

(Begitu pula Kami meninggalkan) pada (kaum) Samud (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika dikatakan kepada mereka, “Bersenang-senanglah kamu sampai waktu yang ditentukan!”

44

فَعَتَوْا عَنْ اَمْرِ رَبِّهِمْ فَاَخَذَتْهُمُ الصّٰعِقَةُ وَهُمْ يَنْظُرُوْنَ

fa ‘atau ‘an amri rabbihim fa akhadzat-humush-shâ‘iqatu wa hum yandhurûn

Lalu, mereka bersikap angkuh terhadap perintah Tuhannya. Maka, mereka disambar petir sementara mereka menyaksikan(-nya).

45

فَمَا اسْتَطَاعُوْا مِنْ قِيَامٍ وَّمَا كَانُوْا مُنْتَصِرِيْنَۙ

fa mastathâ‘û ming qiyâmiw wa mâ kânû muntashirîn

Mereka sama sekali tidak mampu bangun dan tidak pula mendapat pertolongan.

46

وَقَوْمَ نُوْحٍ مِّنْ قَبْلُۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمًا فٰسِقِيْنَࣖ

wa qauma nûḫim ming qabl, innahum kânû qauman fâsiqîn

Sebelum itu (Kami telah membinasakan) kaum Nuh. Sesungguhnya mereka adalah kaum fasik.

47

وَالسَّمَاۤءَ بَنَيْنٰهَا بِاَيْىدٍ وَّاِنَّا لَمُوْسِعُوْنَ

was-samâ'a banainâhâ bi'aidiw wa innâ lamûsi‘ûn

Langit Kami bangun dengan tangan (kekuatan Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskan(-nya).

48

وَالْاَرْضَ فَرَشْنٰهَا فَنِعْمَ الْمٰهِدُوْنَ

wal-ardla farasynâhâ fa ni‘mal-mâhidûn

Bumi Kami hamparkan. (Kami adalah) sebaik-baik Zat yang menghamparkan.

49

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

wa ming kulli syai'in khalaqnâ zaujaini la‘allakum tadzakkarûn

Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).

50

فَفِرُّوْٓا اِلَى اللّٰهِۗ اِنِّيْ لَكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌۚ

fa firrû ilallâh, innî lakum min-hu nadzîrum mubîn

Maka, (katakanlah kepada mereka, wahai Nabi Muhammad,) “Bersegeralah kembali (taat) kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang jelas dari-Nya untukmu.

51

وَلَا تَجْعَلُوْا مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۗ اِنِّيْ لَكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ

wa lâ taj‘alû ma‘allâhi ilâhan âkhar, innî lakum min-hu nadzîrum mubîn

Janganlah kamu mengadakan tuhan lain bersama Allah. Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu.”

52

كَذٰلِكَ مَآ اَتَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا قَالُوْا سَاحِرٌ اَوْ مَجْنُوْنٌ

kadzâlika mâ atalladzîna ming qablihim mir rasûlin illâ qâlû sâḫirun au majnûn

Demikianlah setiap kali seorang rasul datang kepada orang-orang sebelumnya, mereka pasti mengatakan, “(Dia itu adalah) penyihir atau orang gila.”

53

اَتَوَاصَوْا بِهٖۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُوْنَۚ

a tawâshau bih, bal hum qaumun thâghûn

Apakah mereka saling menasihati tentang (apa yang dikatakan) itu? (Tidak!) Sebaliknya, mereka adalah kaum yang melampaui batas.

54

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ فَمَآ اَنْتَ بِمَلُوْمٍ

fa tawalla ‘an-hum fa mâ anta bimalûm

Berpalinglah dari mereka, maka engkau sama sekali bukan orang yang tercela.

55

وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ

wa dzakkir fa innadz-dzikrâ tanfa‘ul-mu'minîn

Teruslah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.

56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

wa mâ khalaqtul-jinna wal-insa illâ liya‘budûn

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

57

مَآ اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَآ اُرِيْدُ اَنْ يُّطْعِمُوْنِ

mâ urîdu min-hum mir rizqiw wa mâ urîdu ay yuth‘imûn

Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.

58

اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

innallâha huwar-razzâqu dzul-quwwatil-matîn

Sesungguhnya Allahlah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.

59

فَاِنَّ لِلَّذِيْنَ ظَلَمُوْا ذَنُوْبًا مِّثْلَ ذَنُوْبِ اَصْحٰبِهِمْ فَلَا يَسْتَعْجِلُوْنِ

fa inna lilladzîna dhalamû dzanûbam mitsla dzanûbi ash-ḫâbihim fa lâ yasta‘jilûn

Sesungguhnya orang-orang yang zalim mendapatkan bagian (azab) seperti bagian teman-teman mereka (dahulu). Maka, janganlah mereka meminta kepada-Ku untuk menyegerakan(-nya).

60

فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ يَّوْمِهِمُ الَّذِيْ يُوْعَدُوْنَࣖ

fa wailul lilladzîna kafarû miy yaumihimulladzî yû‘adûn

Celakalah orang-orang yang kufur pada hari yang telah dijanjikan kepada mereka (hari Kiamat).

Anda baru saja membaca Surat Az-Zariyat.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.

Donasi Sekarang

Pertanyaan Umum tentang Surat Az-Zariyat

Apa isi kandungan Surat Az-Zariyat?

Adz-Dzariyat menegaskan tujuan penciptaan jin dan manusia adalah semata-mata untuk beribadah kepada Allah, bukan karena Allah membutuhkan rezeki dari mereka. Surat ini diawali dengan sumpah demi angin, awan, kapal, dan malaikat, lalu mengisahkan tamu-tamu Ibrahim yang membawa kabar gembira tentang kelahiran Ishak. Surat Az-Zariyat terdiri dari 60 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).

Berapa jumlah ayat Surat Az-Zariyat?

Surat Az-Zariyat terdiri dari 60 ayat dan terdapat pada juz 26 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 12 menit.

Mengapa surat ini dinamakan Az-Zariyat (Angin yang Menerbangkan)?

Nama "Az-Zariyat" (الذاريات) berarti "Angin yang Menerbangkan" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-51 dalam urutan mushaf Al-Quran.

Apakah Surat Az-Zariyat Makkiyah atau Madaniyah?

Surat Az-Zariyat termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.

Kapan waktu terbaik membaca Surat Az-Zariyat?

Surat Az-Zariyat dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.

Apa keutamaan membaca Surat Az-Zariyat?

Ayat 56 adalah ayat paling fundamental tentang tujuan penciptaan manusia: 'Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.' Mengandung kisah kemuliaan Ibrahim dalam menjamu tamu yang menjadi dasar adab memuliakan tamu dalam Islam. Menegaskan bahwa Allah adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) yang tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya. Sumpah dengan angin menunjukkan perhatian Al-Quran terhadap fenomena alam sebagai tanda kekuasaan Allah.

Apakah membaca Surat Az-Zariyat di LiteQuran benar-benar gratis dan tanpa iklan?

Ya, LiteQuran menyediakan Surat Az-Zariyat lengkap dengan teks Arab, Latin, terjemahan, tafsir, dan audio murottal secara 100% gratis dan tanpa iklan sama sekali. Halaman dimuat sangat cepat karena tidak ada script iklan yang memperlambat. Anda bisa fokus membaca Al-Quran tanpa gangguan pop-up atau banner iklan.