Surat Qaf

Qaf • Makkiyah • 45 ayat

Tentang Surat Qaf

Baca Surat Qaf (ق) lengkap dengan teks Latin, Arab, dan terjemahan bahasa Indonesia. Berikut adalah 45 ayat Makkiyah (Juz 26) — surat ke-50 dalam Al-Quran.

Qaf membuktikan kebangkitan setelah mati melalui penciptaan ulang alam dan manusia, seraya menyebut dua malaikat Raqib dan Atid yang senantiasa mencatat setiap perkataan manusia. Surat ini disunahkan dibaca setiap Jumat atau saat khutbah, dan mengandung gambaran surga bagi mereka yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih..

Tema Utama

  • Kepastian hari kebangkitan dan kehidupan setelah mati
  • Malaikat Raqib dan Atid yang mencatat setiap perbuatan manusia
  • Tanda-tanda kekuasaan Allah dalam penciptaan alam
  • Sakaratul maut dan tiupan sangkakala
  • Peringatan melalui kisah umat-umat terdahulu yang dibinasakan

Kandungan Surat

Ayat 1-5Sumpah dengan Al-Quran — kaum kafir heran bahwa ada pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri, dan mereka mengingkari bahwa mereka akan dibangkitkan setelah mati.
Ayat 6-11Tanda kekuasaan Allah — penciptaan langit tanpa tiang, bumi yang dihamparkan dengan gunung-gunung, serta tumbuhan yang dihidupkan dengan air hujan sebagai bukti kemampuan membangkitkan yang mati.
Ayat 12-14Umat yang mendustakan — kaum Nuh, penduduk Rass, Tsamud, Ad, Firaun, kaum Luth, penduduk Aikah, dan kaum Tubba' semuanya mendustakan rasul lalu dihancurkan.
Ayat 16-18Kedekatan Allah dan malaikat pencatat — Allah lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya sendiri, dan malaikat Raqib dan Atid selalu mencatat setiap ucapan yang dikeluarkan.
Ayat 19-30Sakaratul maut dan hari kiamat — datangnya sakaratul maut yang tidak bisa dihindari, tiupan sangkakala, setiap jiwa datang bersama penggiring dan saksi, neraka Jahanam ditanya 'Sudah penuhkah?' dan menjawab 'Masih adakah tambahan?'
Ayat 36-45Peringatan dan kesabaran — perintah merenungkan nasib umat terdahulu yang lebih kuat namun dihancurkan, serta perintah kepada Nabi ﷺ untuk bersabar dan bertasbih.

Keutamaan

  • Nabi ﷺ membaca surat Qaf dalam khutbah Jumat sehingga Ummu Hisyam binti Haritsah menghafalnya dari lisan beliau. (HR. Muslim)
  • Nabi ﷺ juga membaca surat Qaf dalam salat Hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha). (HR. Muslim)
  • Mengandung ayat tentang kedekatan Allah yang lebih dekat dari urat leher manusia (ayat 16), salah satu ayat paling mendalam tentang kedekatan ilmu Allah.
  • Ayat tentang Raqib dan Atid (ayat 18) menjadi pengingat bahwa setiap ucapan dan perbuatan manusia selalu dicatat.

Asbab Nuzul

Surat Qaf adalah surat Makkiyah yang turun di Mekkah. Surat ini turun sebagai jawaban terhadap keingkaran kaum musyrikin tentang hari kebangkitan. Mereka menganggap mustahil manusia yang telah menjadi tanah dapat dihidupkan kembali. Allah menurunkan surat ini dengan bukti-bukti penciptaan alam dan kisah umat terdahulu untuk menegaskan kepastian kebangkitan. Nabi ﷺ sangat mencintai surat ini dan sering membacanya dalam khutbah.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Muslim, Tafsir Al-Qurthubi, Sunan Abu Dawud

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
1

قۤۗ وَالْقُرْاٰنِ الْمَجِيْدِۖ

qâf, wal-qur'ânil-majîd

Qāf. Demi Al-Qur’an yang mulia.

2

بَلْ عَجِبُوْٓا اَنْ جَاۤءَهُمْ مُّنْذِرٌ مِّنْهُمْ فَقَالَ الْكٰفِرُوْنَ هٰذَا شَيْءٌ عَجِيْبٌۚ

bal ‘ajibû an jâ'ahum mundzirum min-hum fa qâlal-kâfirûna hâdzâ syai'un ‘ajîb

(Mereka menolaknya,) bahkan mereka heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri. Berkatalah orang-orang kafir, “Ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan.

3

ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًاۚ ذٰلِكَ رَجْعٌۢ بَعِيْدٌ

a idzâ mitnâ wa kunnâ turâbâ, dzâlika raj‘um ba‘îd

Apakah setelah kami mati dan sudah menjadi tanah (akan dikembalikan)? Itu adalah pengembalian yang sangat jauh.”

4

قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنْقُصُ الْاَرْضُ مِنْهُمْۚ وَعِنْدَنَا كِتٰبٌ حَفِيْظٌ

qad ‘alimnâ mâ tangqushul-ardlu min-hum, wa ‘indanâ kitâbun ḫafîdh

Sungguh, Kami telah mengetahui apa yang dimakan bumi dari (tubuh) mereka karena pada Kami ada kitab (catatan) yang terpelihara baik.

5

بَلْ كَذَّبُوْا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاۤءَهُمْ فَهُمْ فِيْٓ اَمْرٍ مَّرِيْجٍ

bal kadzdzabû bil-ḫaqqi lammâ jâ'ahum fa hum fî amrim marîj

Bahkan, mereka mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya. Maka, mereka berada dalam keadaan kacau balau.

6

اَفَلَمْ يَنْظُرُوْٓا اِلَى السَّمَاۤءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنٰهَا وَزَيَّنّٰهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوْجٍ

a fa lam yandhurû ilas-samâ'i fauqahum kaifa banainâhâ wa zayyannâhâ wa mâ lahâ min furûj

Apakah mereka tidak memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana cara Kami membangunnya dan menghiasinya tanpa ada retak-retak padanya sedikit pun?

7

وَالْاَرْضَ مَدَدْنٰهَا وَاَلْقَيْنَا فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ ۢ بَهِيْجٍۙ

wal-ardla madadnâhâ wa alqainâ fîhâ rawâsiya wa ambatnâ fîhâ ming kulli zaujim bahîj

(Demikian pula) bumi yang Kami hamparkan serta Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung yang kukuh dan Kami tumbuhkan di atasnya berbagai jenis (tetumbuhan) yang indah

8

تَبْصِرَةً وَّذِكْرٰى لِكُلِّ عَبْدٍ مُّنِيْبٍ

tabshirataw wa dzikrâ likulli ‘abdim munîb

untuk menjadi pelajaran dan pengingat bagi setiap hamba yang kembali (tunduk kepada Allah).

9

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً مُّبٰرَكًا فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ جَنّٰتٍ وَّحَبَّ الْحَصِيْدِۙ

wa nazzalnâ minas-samâ'i mâ'am mubârakan fa ambatnâ bihî jannâtiw wa ḫabbal-ḫashîd

Kami turunkan dari langit air yang diberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengannya kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen.

10

وَالنَّخْلَ بٰسِقٰتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيْدٌۙ

wan-nakhla bâsiqâtil lahâ thal‘un nadlîd

Begitu pula pohon-pohon kurma yang tinggi yang mayangnya bersusun-susun

11

رِّزْقًا لِّلْعِبَادِۙ وَاَحْيَيْنَا بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًاۗ كَذٰلِكَ الْخُرُوْجُ

rizqal lil-‘ibâdi wa aḫyainâ bihî baldatam maitâ, kadzâlikal-khurûj

sebagai rezeki bagi hamba-hamba (Kami). Kami hidupkan pula dengan (air) itu negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (dari kubur).

12

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوْحٍ وَّاَصْحٰبُ الرَّسِّ وَثَمُوْدُ

kadzdzabat qablahum qaumu nûḫiw wa ash-ḫâbur-rassi wa tsamûd

Sebelum mereka, kaum Nuh, penduduk Rass, dan (kaum) Samud telah mendustakan (rasul-rasul).

13

وَعَادٌ وَّفِرْعَوْنُ وَاِخْوَانُ لُوْطٍۙ

wa ‘âduw wa fir‘aunu wa ikhwânu lûth

(Demikian juga kaum) ‘Ad, Fir‘aun, kaum Lut,

14

وَّاَصْحٰبُ الْاَيْكَةِ وَقَوْمُ تُبَّعٍۗ كُلٌّ كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ وَعِيْدِ

wa ash-ḫâbul-aikati wa qaumu tubba‘, kullung kadzdzabar-rusula fa ḫaqqa wa‘îd

penduduk Aikah, dan kaum Tubba‘. Semuanya telah mendustakan rasul-rasul, maka berlakulah ancaman-Ku (atas mereka).

15

اَفَعَيِيْنَا بِالْخَلْقِ الْاَوَّلِۗ بَلْ هُمْ فِيْ لَبْسٍ مِّنْ خَلْقٍ جَدِيْدٍࣖ

a fa ‘ayînâ bil-khalqil-awwal, bal hum fî labsim min khalqin jadîd

Apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? (Sama sekali tidak,) bahkan mereka dalam keadaan ragu tentang penciptaan yang baru.

16

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ

wa laqad khalaqnal-insâna wa na‘lamu mâ tuwaswisu bihî nafsuh, wa naḫnu aqrabu ilaihi min ḫablil-warîd

Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.

17

اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيْدٌ

idz yatalaqqal-mutalaqqiyâni ‘anil-yamîni wa ‘anisy-syimâli qa‘îd

(Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya). Yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri.

18

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

mâ yalfidhu ming qaulin illâ ladaihi raqîbun ‘atîd

Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).

19

وَجَاۤءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّۗ ذٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيْدُ

wa jâ'at sakratul-mauti bil-ḫaqq, dzâlika mâ kunta min-hu taḫîd

(Seketika itu) datanglah sakratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak engkau hindari.

20

وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِۗ ذٰلِكَ يَوْمُ الْوَعِيْدِ

wa nufikha fish-shûr, dzâlika yaumul-wa‘îd

Ditiuplah sangkakala. Itulah hari yang diancamkan.

21

وَجَاۤءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّعَهَا سَاۤىِٕقٌ وَّشَهِيْدٌ

wa jâ'at kullu nafsim ma‘ahâ sâ'iquw wa syahîd

Lalu, setiap orang akan datang bersama (malaikat) penggiring dan saksi.

22

لَقَدْ كُنْتَ فِيْ غَفْلَةٍ مِّنْ هٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاۤءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيْدٌ

laqad kunta fî ghaflatim min hâdzâ fa kasyafnâ ‘angka ghithâ'aka fa basharukal-yauma ḫadîd

Sungguh, kamu dahulu benar-benar lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan penutup matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam.

23

وَقَالَ قَرِيْنُهٗ هٰذَا مَا لَدَيَّ عَتِيْدٌۗ

wa qâla qarînuhû hâdzâ mâ ladayya ‘atîd

(Malaikat) yang menyertainya berkata, “Inilah (catatan perbuatan) yang ada padaku.”

24

اَلْقِيَا فِيْ جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيْدٍ

alqiyâ fî jahannama kulla kaffârin ‘anîd

(Allah berfirman,) “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam (neraka) Jahanam semua orang yang sangat ingkar, keras kepala,

25

مَنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُّرِيْبٍۙ

mannâ‘il lil-khairi mu‘tadim murîb

sangat enggan melakukan kebajikan, melampaui batas, bersikap ragu-ragu,

26

ࣙالَّذِيْ جَعَلَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ فَاَلْقِيٰهُ فِى الْعَذَابِ الشَّدِيْدِ

alladzî ja‘ala ma‘allâhi ilâhan âkhara fa alqiyâhu fil-‘adzâbisy-syadîd

(dan) yang mempersekutukan Allah dengan tuhan lain. Maka, lemparkanlah dia ke dalam azab yang keras.”

27

۞ قَالَ قَرِيْنُهٗ رَبَّنَا مَآ اَطْغَيْتُهٗ وَلٰكِنْ كَانَ فِيْ ضَلٰلٍ ۢ بَعِيْدٍ

qâla qarînuhû rabbanâ mâ athghaituhû wa lâking kâna fî dlalâlim ba‘îd

(Setan) yang menyertainya berkata (pula), “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh.”

28

قَالَ لَا تَخْتَصِمُوْا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ اِلَيْكُمْ بِالْوَعِيْدِ

qâla lâ takhtashimû ladayya wa qad qaddamtu ilaikum bil-wa‘îd

(Allah) berfirman, “Janganlah bertengkar di hadapan-Ku dan sungguh, dahulu Aku telah memberikan ancaman kepadamu.

29

مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَآ اَنَا۠ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِࣖ

mâ yubaddalul-qaulu ladayya wa mâ ana bidhallâmil lil-‘abîd

Keputusan-Ku tidak dapat diubah dan Aku (sama sekali) tidak menzalimi hamba-hamba-Ku.”

30

يَوْمَ نَقُوْلُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَـْٔتِ وَتَقُوْلُ هَلْ مِنْ مَّزِيْدٍ

yauma naqûlu lijahannama halimtala'ti wa taqûlu hal mim mazîd

(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami bertanya kepada (neraka) Jahanam, “Apakah kamu sudah penuh?” Ia menjawab, “Adakah tambahan lagi?”

31

وَاُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِيْنَ غَيْرَ بَعِيْدٍ

wa uzlifatil-jannatu lil-muttaqîna ghaira ba‘îd

Adapun surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tidak jauh (dari mereka).

32

هٰذَا مَا تُوْعَدُوْنَ لِكُلِّ اَوَّابٍ حَفِيْظٍۚ

hâdzâ mâ tû‘adûna likulli awwâbin ḫafîdh

(Dikatakan kepada mereka,) “Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang bertobat lagi patuh.

33

مَنْ خَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاۤءَ بِقَلْبٍ مُّنِيْبٍۙ

man khasyiyar-raḫmâna bil-ghaibi wa jâ'a biqalbim munîb

(Dialah) orang yang takut kepada Zat Yang Maha Pengasih (sekalipun) dia tidak melihat-Nya dan dia datang (menghadap Allah) dengan hati yang bertobat.

34

ࣙادْخُلُوْهَا بِسَلٰمٍۗ ذٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُوْدِ

udkhulûhâ bisalâm, dzâlika yaumul-khulûd

Masuklah ke (dalam surga) dengan aman dan damai. Itulah hari yang abadi.”

35

لَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَا وَلَدَيْنَا مَزِيْدٌ

lahum mâ yasyâ'ûna fîhâ wa ladainâ mazîd

Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki dan pada Kami masih ada lagi tambahan (nikmat).

36

وَكَمْ اَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِّنْ قَرْنٍ هُمْ اَشَدُّ مِنْهُمْ بَطْشًا فَنَقَّبُوْا فِى الْبِلَادِۗ هَلْ مِنْ مَّحِيْصٍ

wa kam ahlaknâ qablahum ming qarnin hum asyaddu min-hum bathsyan fa naqqabû fil-bilâd, hal mim maḫîsh

Betapa banyak umat sebelumnya (kaum kafir Quraisy) yang telah Kami binasakan! Mereka itu lebih hebat kekuatannya daripada (kaum kafir Quraisy) itu, sehingga mampu menjelajah (dan mengamati) beberapa negeri. Adakah tempat pelarian (bagi mereka dari kebinasaan)?

37

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِمَنْ كَانَ لَهٗ قَلْبٌ اَوْ اَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيْدٌ

inna fî dzâlika ladzikrâ limang kâna lahû qalbun au alqas-sam‘a wa huwa syahîd

Sesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya dan dia menyaksikan.

38

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍۖ وَّمَا مَسَّنَا مِنْ لُّغُوْبٍ

wa laqad khalaqnas-samâwâti wal-ardla wa mâ bainahumâ fî sittati ayyâmiw wa mâ massanâ mil lughûb

Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa dan Kami tidak merasa letih sedikit pun.

39

فَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوْبِ

fashbir ‘alâ mâ yaqûlûna wa sabbiḫ biḫamdi rabbika qabla thulû‘isy-syamsi wa qablal-ghurûb

Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah seraya bertahmid (memuji) Tuhanmu sebelum terbit dan terbenamnya matahari.

40

وَمِنَ الَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَاَدْبَارَ السُّجُوْدِ

wa minal-laili fa sabbiḫ-hu wa adbâras-sujûd

Bertasbihlah pula kepada-Nya pada sebagian malam hari dan setiap selesai salat.

41

وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِنْ مَّكَانٍ قَرِيْبٍ

wastami‘ yauma yunâdil-munâdi mim makâning qarîb

Dengarkanlah (seruan) pada hari (ketika malaikat) penyeru memanggil dari tempat yang dekat!

42

يَوْمَ يَسْمَعُوْنَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّۗ ذٰلِكَ يَوْمُ الْخُرُوْجِ

yauma yasma‘ûnash-shaiḫata bil-ḫaqq, dzâlika yaumul-khurûj

Pada hari itulah mereka mendengar suara dahsyat dengan sebenar-benarnya. Itulah hari (ketika manusia) keluar (dari kubur).

43

اِنَّا نَحْنُ نُحْيٖ وَنُمِيْتُ وَاِلَيْنَا الْمَصِيْرُۙ

innâ naḫnu nuḫyî wa numîtu wa ilainal-mashîr

Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan dan mematikan dan kepada Kamilah kembalinya (seluruh makhluk).

44

يَوْمَ تَشَقَّقُ الْاَرْضُ عَنْهُمْ سِرَاعًاۗ ذٰلِكَ حَشْرٌ عَلَيْنَا يَسِيْرٌ

yauma tasyaqqaqul-ardlu ‘an-hum sirâ‘â, dzâlika ḫasyrun ‘alainâ yasîr

Pada hari itu bumi terbelah dengan mengeluarkan mereka, (kemudian mereka) bergegas (menuju Padang Mahsyar). Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami.

45

نَحْنُ اَعْلَمُ بِمَا يَقُوْلُوْنَ وَمَآ اَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَبَّارٍۗ فَذَكِّرْ بِالْقُرْاٰنِ مَنْ يَّخَافُ وَعِيْدِࣖ

naḫnu a‘lamu bimâ yaqûlûna wa mâ anta ‘alaihim bijabbâr, fadzakkir bil-qur'âni may yakhâfu wa‘îd

Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan dan engkau (Nabi Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka, berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada siapa pun yang takut pada ancaman-Ku.

Anda baru saja membaca Surat Qaf.
Kami baru saja menghapus semua iklan dari situs ini.
Donasi Anda yang menjaga Litequran.net tetap bebas iklan — untuk Anda dan ratusan ribu pembaca lainnya.

Donasi Sekarang

Pertanyaan Umum tentang Surat Qaf

Apa isi kandungan Surat Qaf?

Qaf membuktikan kebangkitan setelah mati melalui penciptaan ulang alam dan manusia, seraya menyebut dua malaikat Raqib dan Atid yang senantiasa mencatat setiap perkataan manusia. Surat ini disunahkan dibaca setiap Jumat atau saat khutbah, dan mengandung gambaran surga bagi mereka yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih. Surat Qaf terdiri dari 45 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah (diturunkan di Mekkah).

Berapa jumlah ayat Surat Qaf?

Surat Qaf terdiri dari 45 ayat dan terdapat pada juz 26 dalam Al-Quran. Estimasi waktu membaca dengan tartil beserta terjemahannya sekitar 9 menit.

Mengapa surat ini dinamakan Qaf (Qaf)?

Nama "Qaf" (ق) berarti "Qaf" dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada tema atau kisah utama yang dibahas dalam surat. Surat ini merupakan surat ke-50 dalam urutan mushaf Al-Quran.

Apakah Surat Qaf Makkiyah atau Madaniyah?

Surat Qaf termasuk golongan surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Makkiyah umumnya membahas tema keimanan, tauhid, hari akhir, dan kisah para nabi sebagai penguatan akidah umat Islam di masa awal dakwah.

Kapan waktu terbaik membaca Surat Qaf?

Surat Qaf dapat dibaca kapan saja, terutama saat berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sebagai surat Makkiyah yang berisi penguatan iman dan tauhid, membacanya di waktu tenang seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Subuh sangat dianjurkan.

Apa keutamaan membaca Surat Qaf?

Nabi ﷺ membaca surat Qaf dalam khutbah Jumat sehingga Ummu Hisyam binti Haritsah menghafalnya dari lisan beliau. (HR. Muslim) Nabi ﷺ juga membaca surat Qaf dalam salat Hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha). (HR. Muslim) Mengandung ayat tentang kedekatan Allah yang lebih dekat dari urat leher manusia (ayat 16), salah satu ayat paling mendalam tentang kedekatan ilmu Allah. Ayat tentang Raqib dan Atid (ayat 18) menjadi pengingat bahwa setiap ucapan dan perbuatan manusia selalu dicatat.

Apakah membaca Surat Qaf di LiteQuran benar-benar gratis dan tanpa iklan?

Ya, LiteQuran menyediakan Surat Qaf lengkap dengan teks Arab, Latin, terjemahan, tafsir, dan audio murottal secara 100% gratis dan tanpa iklan sama sekali. Halaman dimuat sangat cepat karena tidak ada script iklan yang memperlambat. Anda bisa fokus membaca Al-Quran tanpa gangguan pop-up atau banner iklan.